Crazy Rich

Nuel Lubis
Chapter #22

Akhirnya Bertemu dengan Alung

Iseng saja Suhandi ke Beta-Mart itu lagi. Yang di kawasan Legok, Tangerang. Sendirian saja. Ia ke sana dari gereja yang ia ikuti ibadah minggunya. Melaju kencang dengan sepeda motornya yang membuat lara perempuan pasti terkesima dengan dirinya.

Begitu sampai, Suhandi terkaget-kaget. Tiba-tiba saja, kedua matanya menangkap sosok yang sudah ditunggu-tunggu selama ini.

"Aloeng...."

Sekonyong-konyong seorang karyawan Beta-Mart menunjuk ke arah Suhandi. Kata karyawan yang saat itu kepada Alung, pria Tionghoa berpakaian necis dan mengenakan kacamata hitam.

"Itu, Koh," kata karyawan tersebut. "Si kokoh-kokoh yang masih muda itu, udah berapa hari ini, suka wara-wiri ke sini."

Tanpa pikir panjang, Alung mendekati Suhandi. Dua orang bertubuh tegap mengikuti Alung. Setelah mendekat, Alung menyapa Suhandi, "Ada perlu apa, kamu menemui saya? Rasanya saya pernah bertemu dengan Anda, Nak. Wajahnya familier sekali dengan seseorang yang pernah saya kenal di masa lalu."

Sebetulnya Suhandi kaget juga. Apalagi belum sempat meletakkan helm di stang motor, Alung sudah bergerak ke arah dirinya.

Suhandi menerima jabat tangan tersebut, lalu membalas, "Saya Suhandi. Yah, jelas kenal, engkong saya pernah menjalin hubungan kerja sama bisnis dengan Anda, Koh. Tapi engkong saya sudah meninggal."

"Siapa nama engkong-nya?" tanya Alung mengernyit.

"Siapa nama engkong-nya?" tanya Alung mengernyit.

Suhandi menyebutkan nama engkongnya. Mendadak wajah Alung berubah. Tidak banyak sebenarnya. Hanya alisnya yang sedikit terangkat dan bibirnya yang semula tersenyum mendadak mengatup.

"Ah...." Satu kata itu keluar begitu saja dari mulut Alung.

Suhandi memperhatikan reaksi tersebut. Lalu ia bertanya, "Kenal, Koh?"

Alung tidak langsung menjawab. Ia justru melirik dua pria bertubuh tegap yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakangnya. Pengusaha kelas kakap berdarah Tionghoa itu berujar, "Kalian tunggu di mobil."

Kedua pria itu mengangguk, kemudian berjalan pergi.

Suhandi semakin waspada. "Jadi benar, Koh?"

"Engkongmu..." Alung kembali memandang Suhandi. "Sudah berapa lama dia meninggal?"

"Sudah lama."

"Dan kamu sekarang tinggal di mana?"

"Yah, di dekat-dekat Alam Sutera."

Alung tersenyum tipis saya menanyakan, "Pengusaha?"

Suhandi terkejut. "Kok Kokoh tahu?"

"Wajahmu bukan wajah orang yang datang cuma mau minta tanda tangan."

Suhandi tertawa kecil. "Saya punya usaha plastik."

"Plastik?"

"Namanya Weweh Plastic."

Alung mengangguk pelan. "Bagus itu. Kembangkan jika merasa prospeknya bagus."

Suhandi kemudian mengeluarkan ponselnya, lalu berkata, "Saya sebenarnya datang bukan untuk membicarakan usaha."

"Saya tahu. Karyawan minimarket saya sudah ngomong tadi."

Suhandi membuka foto dokumen yang selama ini menjadi pusat penyelidikannya. Surat utang lama itu. Ia menunjukkan layar kepada Alung.

"Ini peninggalan engkong saya."

Alung melihatnya. Kali ini cukup lama. Tatapannya benar-benar berubah.

Lihat selengkapnya