Crazy Rich

Nuel Lubis
Chapter #23

Obrolan Penting dengan Alung

Sesuai janji, Suhandi mememui Alung di Jakarta. Di sebuah restoran bernama Remboelan. Suhandi datang sendiri. Namun Alung datang bersama dua orang. Yang satu diperkenalkan sebagai pengacaranya, dan mengaku bernama Dylan Walintukan. Satunya lagi, dan masih adiknya Dilan, yang bernama Darren, dan berprofesi sebagai notaris.

"Ayah mereka berdua, Pak Daniel Walintukan," jelas Alung tersenyum. "Dulunya Pak Daniel itu teman satu fakultas di Ekonomi. Sayangnya dia sudah mendahului saya duluan."

"Darren...."

"Suhandi...."

"Oh iya, Suhandi," sela Alung setelah sebelumnya minum teh, "kalau maksudnya soal utang itu, justru engkong kamu itu, Salim, dia yang punya utang sama saya."

"Kok bisa, Koh?" Suhandi kaget dan tak percaya. "Tapi di suratnya berkata sebaliknya."

"Justru itu," Alung berdeham. "Ada kesalahpahaman di sini. Utang itu sebenarnya sudah lunas dengan utang lainnya. Malah Salim pinjam uang ke saya buat ikut main saham. Lantas dia gagal. Hampir masuk penjara, dan saya yang bayar jaminannya. Tolong tunjukkan bukti-bukti hukumnya, Dylan."

Dylan membuka sebuah map hitam yang sejak tadi diletakkan di samping kursinya.

"Ini salinan dokumen yang masih tersimpan," kata Dylan tenang.

Dylan segera mengeluarkan beberapa lembar kertas. Suhandi menerimanya. Mata Suhandi langsung tertuju pada tanggal-tanggal yang tercantum.

"Ini putusan pengadilan?"

"Sebagian," jawab Dylan. "Sebagian lagi dokumen pembayaran dan surat perjanjian."

Darren ikut mendekat dan menambahkan, "Masalahnya, dokumen lama seperti ini harus dibaca berdasarkan rangkaian peristiwa. Jangan cuma melihat satu surat."

Suhandi mengangguk. "Jadi menurut Koh Alung, engkong saya yang punya utang?"

Alung mengangguk. "Betul."

"Tapi surat ini?"

"Surat itu memang ada. Saya tidak menyangkalinya," Alung menyeruput tehnya. "Tetapi konteksnya berbeda."

Suhandi kembali membaca dokumen, lalu bertanya, "Engkong saya pinjam uang dari Kokoh, kan?"

"Ya."

"Untuk main saham?"

"Awalnya begitu."

"Terus gagal?"

Alung mengangguk. "Namanya juga investasi. Kadang untung, kadang rugi."

Suhandi menatapnya tajam, bertanya lagi, "Tapi engkong saya sampai hampir masuk penjara?"

Alung menghela napas. "Itu bukan semata-mata karena investasi."

Dylan segera menyela, "Pak Salim menghadapi persoalan hukum yang muncul dari rangkaian transaksi tersebut. Detailnya ada di dokumen. Kami tidak ingin menyimpulkan lebih dari yang bisa dibuktikan."

Suhandi menghargai kata-kata tersebut. Setidaknya pengacara tersebut tidak asal menuduh.

"Terus Kokoh bayar jaminannya?"

"Ya, seluruhnya. Jangan dipotong setengah-setengah."

"Kenapa Kokoh bayar?"

Lihat selengkapnya