Malamnya, Suhandi menceritakannya pengalaman itu ke mamanya. Tampaknya ada yang mamanya coba sembunyikan. Terlihat dari gurat wajah Etiyati.
"Jadi, menurut Mama," ucap Suhandi sembari gonta-ganti saluran televisi, "Koh Alung itu bohong?"
"Sudah pasti itu, Suh," jawab Etiyati tegas, dengan sorot mata tajam.
"Engkong Salim nggak kayak yang diomongin Koh Alung?" tanya Suhandi lagi.
"Kamu mau percaya Mama atau Koh Alung itu?" ujar Etiyati makin galak. "Lebih baik urus usaha plastik kamu itu. Lupakan soal utang puluhan tahun itu juga."
"Kenapa harus gitu, Ma?" tanya Suhandi kecewa. "Aku justru terus selidiki... yah, karena lumayan aja."
"Lumayan bagaimana?"
"Bayangkan kalau orang-orangnya ketemu, Ma--"
"--ah, kamu ini, Suh. Yang kamu lakukan itu bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami."
"Tapi sekalinya ketemu, siapa tahu, dapat jarum emas."
Etiyati berdiri setelah sebelumnya melipat pakaian terakhir. Dengan mata tegas, ia berkata, "Kalau kata anak zaman sekarang, halu kamu, Suh. Cuma bisa ngayal-ngayal nggak jelas."
Suhandi tertawa kecil. "Kalau Mama bilang halu, berarti Mama sebenarnya tahu sesuatu."
Etiyati yang hendak membawa tumpukan pakaian ke kamar langsung berhenti. Ia menghardik anaknya sendiri, "Apa maksud kamu?"
"Nggak ada, kok. Nggak apa-apa. Cuma becanda."
"Mama nggak suka aja caramu ngomong itu!"
Suhandi mematikan televisi. Ruangan mendadak sunyi. Ia memandang mamanya.
"Ma, dari tadi setiap kali aku menyebut nama Koh Alung, Mama berubah."
Etiyati tidak menjawab.
"Setiap kali aku menyebut Hilman Lubis, Mama juga kayaknya nggak nyaman aja."
"Perasaan kamu saja!"
"Terus ketika aku menyebut surat utang engkong, Mama malah nyuruh aku berhenti buat menelusuri."
Etiyati meletakkan pakaian di atas sofa. Ia berdalih, "Karena Mama nggak mau kamu terjebak dalam cerita orang-orang zaman dulu."
"Kenapa?"
"Karena kamu nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Suhandi terkekeh. "Nah, itu dia. Berarti benar dugaanku."
"Sudahlah, Suh, hentikan."
"Kalau Mama bilang aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, berarti Mama tahu ada sesuatu yang terjadi."
Etiyati menatap anaknya.
Untuk beberapa saat, tidak ada suara apa pun. Bahkan televisi yang sudah dimatikan pun seperti ikut menyaksikan percakapan mereka.
"Mama nggak mau ngomong aja," ujar Etiyati akhirnya.
"Kenapa?"
"Karena ini bukan cerita yang.solusinya sederhana."
Suhandi bersandar, lalu bertanya, "Utang delapan ribu tiga ratus tiga puluh rupiah?"
"Bukan cuma itu."
"Tanah lima hektar juga?"
"Bukan cuma itu juga."
"Soal Alung?"