Terjadi keributan di dalam rumah ukuran minimalis yang berada di sebuah permukiman di dekat Situ Pondok Jagung.
"Kan, Mama sudah pernah bilang, jangan lagi kamu urusin soal itu? Berapa kali Mama harus bilang?"
"Kenapa Mama nggak bilang Engkong Salim terjerat utang lumayan gede, Ma?"
"Sengaja Mama tidak beritahukan kamu, Suh. Itulah kenapa Mama aktif di komsel. Coba ambil hati keluarga Lubis itu. Paham nggak kamu itu?"
"Terus utangnya itu gimana, Ma? Gede juga!"
Suhandi lalu menunjukkan berkas-berkas yang ia terima dari orang-orang yang mendadak menghampiri dirinya di apartemennya yang ada di BSD.
"Yah, mana Mama tahu," keluh Bu Etiyati kesal sekaligus kecewa dengan Suhandi. "Tapi nanti Mama coba temui Bu Rina."
Setelah mamanya berkata seperti itu, barulah Suhandi tersadar akan sesuatu. Saat itu, suara ribut-ribut yang Suhandi dengar saat bertandang ke rumahnya Bu Rina, apa mungkin itu pertanda Bu Rina hendak pindah rumah?
Suhandi terdiam beberapa saat. Pertanyaan itu tiba-tiba muncul begitu saja di kepalanya.
“Jangan-jangan.…”
“Apa lagi sekarang?” tanya Bu Etiyati.
“Waktu aku ke rumah Bu Rina beberapa waktu lalu, aku dengar suara ribut dari dalam. Ada suara orang mondar-mandir. Barang-barang juga seperti sedang dipindahkan.”
Bu Etiyati langsung menatap anaknya.l, bertanya, “Kamu ke rumah Bu Rina?”
“Iya, Ma. Kan, sama Mama juga?”
“Oh, iya,” Bu Etiyati mengangguk pelan. “Waktu itu kan Bu Rina memang sedang beres-beres.”
“Beres-beres atau pindahan?”
Pertanyaan Suhandi membuat suasana kembali hening.