Namanya Jumirah. Asal Sumenep. Terlihat dari logat Madura-nya.
Saat Suhandi dan mamanya ke rumah Bu Rina, Bu Rina sudah pindah ke Singapura. Rumah itu hanya ditempati oleh lima asisten rumah tangga, sopir, dan tiga orang kemenakan Bu Rina. Bahkan salah satu kemenakan main gila dengan seorang asisten rumah tangga. Yah, dengan Jumirah ini.
"Dalam satu hari, bisa satu tamu," jawab Jumirah yang mengaku namanya di malam hari adalah Naomi. "Itu juga kalau rutin... syukur-syukur, dalam setahun, bisa dapat 365 tamu. Dikali sama tarifnya saya yang 500 ribu... saya bisa dapat hampir 150 juta."
Suhandi berdecak dan geleng-geleng kepala. "Wah, kalau sehari bisa dapat tiga tamu, si Mbak bisa dapat... setagun 450 juta. Kamu bisa kebeli mobil."
Jumirah cekikikan. "Untuk kebutuhan bulanan, ambil lembur di hari sabtu dan minggu. Terus, ambil tamu dua kali lipat. Jadi minimal ambil enam tamu, termasuk Koh Epe, ponakannya Ce Rina. Belum lagi, bisa dapat tambahan 12-15 jutaan untuk biaya bulanan saya."
"Pantesan ada yang ogah diangkat dari lembah nista," Suhandi kembali geleng-geleng kepala. "Karena duit dari orang yang mau ngangkat, masih kalah sama income-nya."
Sementara mamanya, Etiyati, malah sibuk berbicara dengan sopirnya Bu Rina, Zul. Zul masih menolak untuk memberitahukan rumah anak sulung Bu Rina yang ada di Pantai Indah Kapuk.
Suhandi sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan cerita Jumirah mengenai kehidupan pribadinya. Namun, dari percakapan itu, ada satu hal yang justru membuat pikirannya kembali bekerja. Bahwa Bu Rina pindah ke Singapura. Lalu rumah ini ternyata tidak benar-benar kosong.
“Bu Rina pindahnya kapan, Mbak?” tanya Suhandi.
“Kurang tahu, Mas. Tiba-tiba saja sudah berangkat.”
“Barang-barangnya?”
“Sebagian dibawa. Sebagian lagi katanya dititipkan.”
“Dititipkan ke siapa?”
Jumirah mengangkat bahu. “Wah, kalau itu saya nggak tahu.”
Suhandi melirik ke arah ruang tengah. Rumah tersebut memang masih terlihat seperti rumah yang dihuni. Sofa, lemari, meja makan, bahkan beberapa foto keluarga masih terpajang. Tetapi suasananya berbeda. Seperti rumah yang sedang menunggu seseorang kembali. Atau justru rumah yang sengaja ditinggalkan.
“Mama,” panggil Suhandi.
Etiyati menoleh dari arah sopir, bertanya, “Apa, Suh?”
“Bu Rina benar-benar pindah permanen?”
Zul yang sejak tadi diam tiba-tiba menyela, “Katanya begitu, Koh.”