Jumirah terkekeh kecil. “Mas ini aneh.”
“Kenapa?”
“Baru kenal sudah minta nomor.”
“Habis kamu cantik sih, Mbak," Suhandi terkekeh. "Ditambah lagi, ada yang saya mau bicarakan."
“Bicarain soal apa?”
Suhandi memasang wajah polos, menjawab, “Ya, ntar aja saya jelasin. Sekarang, mengakrabkan diri dulu sama kamu, Cantik."
Jumirah kembali tertawa. Logat Maduranya terdengar semakin kentara ketika ia berkata, “Ah, kamu ini ada-ada saja.”
“Namanya juga usaha.”
“Usaha apa, nih?”
“Usaha mencari informasi.”
Jumirah langsung berhenti tertawa. Matanya menyipit saat bertanya, “Informasi?”
Suhandi ikut terdiam. Waduh, hampir saja keceplosan. Ia kemudian tersenyum dan menjawab, “Informasi soal rumah ini. Terlebih soal kamu, Sayang.”
“Oh,” Jumirah mengangguk-angguk. “Kirain informasi lain. Kalau soal saya sih, nggak apa-apa. Asal ditambahin yah.”
“Itu bisa diatur, Sayang.”
Jumirah kembali cekikikan. Namun Suhandi tidak lagi sekadar bercanda. Ia memperhatikan perempuan itu baik-baik. Jumirah ternyata bukan sekadar asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Bu Rina. Asisten ini cukup lama tinggal di sana. Bahkan Jumirah cukup mengenal para penghuni rumah. Perempuan ini tahu kebiasaan mereka, tahu siapa yang sering datang, bahkan mengetahui beberapa hubungan pribadi yang terjadi diam-diam. Orang seperti ini, menurut Suhandi, biasanya memiliki satu kelebihan. Mereka melihat sesuatu yang tidak dilihat pemilik rumah.
“Mbok, maksud saya Mbak Jumirah….”
“Jumirah saja. Atau, panggil saja Naomi.”
“Oke, Naomi.”
“Iya, Koh.”
“Selama bekerja di sini, pernah lihat ada orang membawa koper atau kardus besar dari kamar Bu Rina?”
“Sering.”
“Sering?”
“Iya. Tapi bukan saya yang mengantar.”