Baru sebentar Suhandi meninggalkan rumah Bu Rina, ia dihampiri oleh seseorang yang mengaku keponakan Bu Rina. Orang itu memperkenalkan diri sebagai Donny. Donny berprofesi sebagai joki pelari.
Suhandi tahu apa itu joki pelari. Itu adalah sebuah jasa pelari bayaran. Ada sebuah praktik di mana satu orang membawa hingga sepuluh ponsel sekaligus dalam satu kali lari. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan rute palsu yang memiliki jejak data geografis yang terlihat nyata di peta.
"Yah, lumayan untungnya," lanjut Donny. "Mau sewa jasa saya, Koh? Oh iya, yang saya lihat... ehem, ehem, kamu kepincut sama Naomi itu?"
"N-nao apa?" Suhandi gelagapan. "Maksdnya Jumirah? Hahaha... bisa aja, Koh Donny."
"Tapi meski dari kampung di Jawa Tengah sana," Donny mengacungkan jempol, "beuh, maennya... langsung loyo!"
Suhandi hanya tertawa. Sebisa mungkin ia tidak memberitahukan niat awalnya akrab dengan Jumirah.
"Oh iya, ada perlu apa sama tante saya?" tanya Donny mengernyit. "Pak Zul bilang, udah seminggu, kamu sama mamamu main ke rumah. Tante ada urusan di Singapore. Bantu usaha Uncle di sana. Usaha rumah makan Padang."
"Uncle?" Suhandi ikut mengernyit. "Oh, maksudnya Alung. Kamu ponakannya juga?"
"Sopan dikit, dong," Donny terlihat tersinggung. "Manggilnya pakai "Pak", lah. Ngomong-ngomong, kita kayaknya sebaya. Sesama Milenial, nih."
"Saya kelahiran 90," jawab Suhandi canggung.
"Sama kalau gitu," ujar Donny lagi. "Eh, masuk dulu. Gue jelasin soal dunia joki. Ngomongnya lu-gue aja, lah. Kaku amat pake saya."
Berikutnya Suhandi mengikuti langkah kaki Donny ke dalam rumah itu lagi. Sambil menuju ruang tengah yang berada di lantai dua, Donny menjelaskan tentang dunia joki.
"Untuk mengelabui sistem yang memeriksa anomali kesehatan, joki melakukan upgrade dengan menambahkan simulasi sensor detak jantung dan getaran langkah kaki. Tujuannya adalah agar data aktivitas yang diunggah menunjukkan adanya beban fisik yang wajar, sehingga tidak memicu kecurigaan sistem keamanan."
"Tahu detail juga yah, lo?" tanya Suhandi cekikikan.
Donny hanya terkekeh, duduk, dan meminta Jumirah membuatkan minuman. Sembari, sebelum Jumirah melengos jauh, ia mencolek bokong Jumirah, lalu berkata, "Nao, jangan lupa, nanti malam. Jatah mingguan, biasa."
Jumirah hanya terkekeh dan mengerlingkan mata.
Setelah pergi, Donny kembali menjelaskan, "Eh, saat ini, perjokian telah berevolusi menjadi skala industri atau joki farm. Ini adalah ruangan yang berisi ratusan perangkat yang dioperasikan secara semi-otomatis menggunakan kecerdasan buatan. AI ini berfungsi untuk meniru perilaku manusia secara konsisten dan terukur agar akun klien tetap aman dari ban."
Suhandi mengangguk-angguk, meskipun sebenarnya pikirannya tidak terlalu tertarik pada dunia perjokian. Ia justru lebih tertarik pada satu hal, yaitu hubungan keluarga Bu Rina.
“Jadi lo memang keponakannya Bu Rina?” tanya Suhandi.
“Iya.”
“Keponakan kandung?”
“Ya iyalah.”
“Berarti lo kenal sama Uncle Alung juga?”
Donny mengambil gelas minuman yang baru saja diletakkan Jumirah di meja. Ia menjawab, “Kenal.”
“Dekat?”
“Lumayan.”
Suhandi memperhatikan ekspresi Donny, lalu bertanya, “Kalau dibandingkan Bu Rina, lo lebih dekat sama siapa?”
Donny tertawa. “Waduh. Pertanyaan lo kayak intel polisi aja.”
“Gue cuma penasaran.”