Setelah melakukan petualangan seksual dalam semalam, paginya, di pukul 08.23, Suhandi memenuhi janji dengan Donny. Mereka bertemu di sebuah restoran mewah yang ada di Grand Indonesia.
Ternyata di sana, sudah ada lima orang teman Donny. Donny langsung memperkenalkan ke Suhandi teman-temannya.
"Yang kiri Sumitomo," ujar Donny terkekeh. "Papanya itu direktur utama dari bank swasta yang terkenal di Indonesia. Siapa sih yang nggak tahu CAB, Centre Asia of Bank?"
Sumitomo langsung memamerkan aksi teatrikal menembak dengan jemari sambil berkata, "Yo, Suh... salam kenal!"
"Tapi ceroboh nih anak," lanjut Donny lagi, "kalau nggak boleh dibilang tolol. Grup bisnis yang udah dibangun sama papanya selama dia SMP, hampir aja dibikin bangkrut."
"Siapa aja bisa kali, Don," bela Sumitomo, "bikin kesalahan waktu nanem saham."
"Lo aja yang nggak bisa kerja, Mit," tangkis Donny terkekeh. "Kerjanya cuma bisa ngabisin duit bokap lu. Cuma buat masuk ke satu rumah bordil ke rumah bordil lainnya. Hati-hati sama penularan HIV, lah."
Selanjutnya Donny menunjuk yang di sebelahnya, yang lebih mirip orang Jepang. Langsung Donny berkata, "Namanya Johnny. Oma buyutnya emang berdarah Jepang, dan dari Kyoto. Dan, biaya hidup di keluarganya itu lumayan tinggi. IPL komplek aja mahal. Belum lagi, uang sekolah buat balita yang cukup mahal. Ditambah lagi, gaji nanny yang mahal banget. Bininya royal juga. Masa pake skin care mahal, terus? Makanya suka defisit di akhir bulan."
"Lo suka ghibahin orang mulu, Don?" Johnny tak terima.
Donny hanya terkekeh, lalu melanjutkan, "Yang ini lebih parah. Namanya Ridwan. Dari cara berbicara papanya sama dia aja, bak bumi sama langit. Kalau bahasa anak jaman now, langsung ilfil denger anaknya ngomong."
Ridwan langsung mengumpat, "Ah, taek... ngomongin yang baik-baik aja, lah!"
Donny tak peduli dan melanjutkan omongannya, "Nah, yang ini, yang paling ndablek. Namanya Defri. Yang punya usaha joki sekaligus penyedia diamond di beberapa layanan game online. Dia kerja sama dengan Ridwan yang punya e-sport team di kancah Mobile Legends."
Defri langsung minum air jeruk dan terkekeh.
Donny melanjutkan ucapannya, "Terakhir, Inspektur Vijaj. Dia orang India sendiri dari kita yang Chindo. Dia bakal siap sedia tiket ke Bangladesh, kalau kita mau pelesiran ke Dhaka. Canda, canda...."
Suhandi hanya bisa mengangguk-angguk. Ia tidak tahu harus tertawa atau bingung. Sebab, lima orang itu memiliki latar belakang yang berbeda-beda, tetapi ada satu kesamaan. Semuanya kelihatan seperti berasal dari keluarga yang kehidupannya jauh dari kata sederhana.
“Jadi,” ujar Donny sambil menyandarkan punggung ke kursi, “ini Suhandi. Pengusaha plastik.”
“Plastik?” Sumitomo mengernyit.
“Weweh Plastic,” jawab Suhandi.
“Oh, gue pernah lihat!”
“Serius?” Suhandi tak percaya usahanya dikenal oleh yang sudah konglomerat.
“Iya. Kayaknya pernah lihat kantong plastiknya.”
Donny langsung tertawa.B“Bukan begitu, Mit. Dia ini pemiliknya!”
“Oh.…”
Sumitomo langsung mengulurkan tangan, berkata, “Maaf, Suh. Gue kira lo sales.”
Suhandi terkekeh.n“Gue sering dikira begitu.”
Johnny yang sejak tadi diam tiba-tiba ikut bicara, “Kalau bisnis plastik, margin-nya besar?”
“Tergantung produknya.”
“Berarti lo ngerti manufaktur, dong?!"
“Sedikit.”