"Biasanya para joki menggunakan metode yang semakin canggih dan terorganisir untuk memanipulasi data aktivitas di Strava," lanjut Donny setelah menyesap americano. "Yah, itu agar terlihat otentik dan lolos dari deteksi sistem anti-cheat platform."
Tadi Donny sedang menjelaskan perihal joki pelari. Mulai dari struktur organisasi seperti startup, di mana joki bukan lagi sekadar individu yang bermain di kamar, melainkan sudah berevolusi menjadi joki farm. Tempat ini adalah ruangan khusus yang berisi ratusan perangkat yang dioperasikan secara semi-otomatis menggunakan kecerdasan buatan untuk meniru perilaku manusia agar tidak terdeteksi oleh sistem keamanan platform.
Hingga Donny menjelaskan tentang operasional yang lebih profesional. Yang menurut Johnny, sindikat ini memiliki struktur yang sangat rapi. Itu mulai dari manajer operasional, tim riset algoritma yang terus memantau pembaruan sistem developer, hingga layanan pelanggan 24 jam.
Ada juga dijelaskan tentang teknologi manipulasi untuk mengelabui sistem. Seperti jamak terjadi di Strava), saat mereka menggunakan alat canggih seperti emulator GPS untuk mensimulasikan rute lari yang terlihat organik dan manusiawi. Atau ada yang menggunakan sensor palsu, yang mana mereka menambahkan simulasi detak jantung dan getaran langkah kaki agar data aktivitas fisik klien terlihat asli dan tidak dicurigai oleh sistem anti-cheat.
Bahkan, menurut Donny, dalam ekonomi skala besar, industri jasa digital non-resmi ini telah menghasilkan transaksi bernilai miliaran dolar di Asia Tenggara, didorong oleh kebutuhan pengguna akan validasi instan di media sosial.
Sindikat ini kini juga melayani joki portofolio dan joki LinkedIn, di mana mereka membantu pembuatan sertifikasi palsu hingga pengerjaan tes teknis rekrutmen, yang dampaknya bisa merusak integritas dunia kerja.
Johnny tertawa dan langsung merangkul Suhandi. Sembari ia berujar, "Lo lebih mirip pria muda penyuka milf, bro."
"Becandanya nggak lucu," dengus Suhandi.
Sumitomo yang merespon, "Dah, lah, Suh. Lupain aja soal utang itu. Mending ikut project kita-kita. Tuh, lihat, si Donny lagi jelasin cara jadi joki pelari. Pelan-pelan bisa nyicil bayar utang ke Koh Alung."
"Apa jaminannya kalau cara kalian aman?" tantang Suhandi. "Lagian gue percaya Engkong Salim main bersih selama hidup. Pasti ada kesalahpahaman."
"Ngeyel amat lo, Suh!" gertak Ridwan. "Berutang, yah berutang aja. Di sini, kita mau bantuin lo lepas dari jeratan utang dari jaringan mafianya Koh Alung."
Vijay menambahkan, "Tapi ada jasa, ada harga. Lo cuma jadi boneka kita aja. Dan, usaha plastik lo, yah, kita jadiin ladang pencucian uang dari transaksi setiap bisnis kita."
Donny ikut menambahkan, "Slow but sure. Alon-alon asal kelakon. Pitik-pitik dulu, nanti untung gede."
Suhandi terdiam. Perkataan Vijay barusan membuat suasana di meja itu berubah. Bukan lagi sekadar obrolan mengenai joki. Bukan lagi sekadar bisnis digital juga. Mereka baru saja menyebut Weweh Plastic sebagai bagian dari permainan mereka.
Kemudian Suhandi meletakkan cangkir kopinya perlahan. Ia membalasnya secara tenang nan bijak, “Gue mau memastikan satu hal.”
Vijay terkekeh. “Apa?”
“Lo tadi bilang usaha plastik gue bakal dijadiin ladang pencucian uang?”
“Betul.”
Suhandi mengangguk pelan. “Dan lo ngomong itu santai banget.”
Ridwan tertawa. “Lah, emangnya kenapa? Bawa santai aja. Kita udah tahu segala celahnya.”
“Lagian itu bukan bisnis sembarangan. Maksud gue, usaha plastik gue itu.”
“Terus?”
“Yang kalian tawarin itu, udah menjurus ke kriminal.”
Meja mendadak sunyi. Donny tidak tertawa lagi. Sumitomo bahkan berhenti memainkan ponselnya. Vijay masih terlihat santai.
“Jangan terlalu serius, Suh.”