Kembali ke rumah kediaman Rina Endrawati. Pada pukul 20.30.
"Koh Donny ada di rumah?" tanya Suhandi saat mendatangi lagi rumahnya Bu Rina.
Lalu Suhandi mengecup pelan kening Naomi.
Naomi membalasnya dengan ciuman di bibir yang agak lama dan panas. Barulah perempuan itu menjawab, "Koh Donny tadi bilang, ada urusan di Bali. Pagi-pagi banget berangkatnya. Katanya, ada event marathon di Denpasar."
"Baguslah," Suhandi langsung masuk saat Naomi membukakan pintu pagar.
"Wah, pasti Koh Suhandi segitu kedemenan sama aku," bisik Naomi mengikik. "Ketimbang Koh Donny, aku lebih suka sama Koh Suhandi di atas ranjang."
Suhandi selanjutnya mengecup bibir Naomi lagi, lalu berkata, "I love you so much, Naomi. Ini, aku juga bawain martabak ketan kesukaan kamu."
"Makasih banyak, Koh," kata Naomi menerima kantung plastik berisi martabak ketan. "Ini... rencananya langsung ngelakuinnya di kamarku? Atau mau ngobrol-ngobrol dulu? Kebetulan aku punya informasi menarik buat kamu, Koh."
"Eh, bikinin aku nasi goreng, dong," Suhandi mengalihkan pembicaraan ke arah lainnya. "Aku rindu nasi goreng buatanmu, Naomi. Sambil makan, sambil ngobrol."
"Koh..." Naomi takut-takut mengutarakan isi hatinya.
"Apa, Naomi?" tanya Suhandi mencubit pipi Naomi.
Jeda agak lama sebentar.
....
"Aku mau nanya, boleh?" tanya Naomi akhirnya. Sambil menggigit bibir bawahnya.
"Nanya apa?" tanya Suhandi mengernyit.
"Andai aku hamil, gimana?"
"H-hamil? Maksudnya kamu?"
"Iya, hamil, Koh. Tadi pagi aku muntah-muntah, terus ditemenin Bang Zul ke apotek... pas nyobain testpack, hasilnya positif."
"Kan, kita cuma ngelakuinnya sekali. Mungkin bukan sama aku, Naomi. Bisa jadi sama Koh Donny."
"Tapi, sama Koh Donny, selalu pake pengaman. Sama Koh Suhandi, nggak."
Suhandi mengernyitkan dahi. Dalam hati, ia mulai panik. Apa yang akan terjadi jika Papa dan Mama tahu?
Untuk sementara, Suhandi tidak langsung menjawab. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap Naomi. Wajah perempuan itu pun tidak lagi menunjukkan senyum menggoda seperti beberapa menit sebelumnya. Kini matanya justru tampak penuh kecemasan.
“Positifnya dua garis?” tanya Suhandi akhirnya.
Naomi mengangguk. “Lah, iya. Emang Kokoh belum pernah pake testpack?”
“Bukan gitu maksud aku. Eh, testpack-nya masih ada?”
“Masih. Di kamar.”
“Coba lihat.”
Naomi berjalan mengambil benda tersebut. Tidak lama kemudian, ia kembali membawa alat tes yang sudah dimasukkan ke dalam plastik kecil.