Crazy Rich

Nuel Lubis
Chapter #35

Ternyata Itu Nomor Defri

Ternyata nomor misterius itu milik Defri. Untungnya Suhandi menuruti saran Roki untuk langsung menghubungi nomor tersebut. Jika tidak, yang andai menuruti keinginan dagingnya, bisa-bisa ia terus berada dalam roh ketakutan.

Suhandi sempat berpikir, jika ia menghubungi nomornya, suaranya akan direkam diam-diam, lalu ke dalam ponselnya, akan disusupi malware atau spyware. Nyatanya, itu tidak terjadi.

Saat itu, Roki tertawa dan berkata, "Telepon, lah, Koh. Ya elah, masa Koh Suhandi langsung percaya juga hoax macam begitu? Atau biar aku yang telepon, yah minimal pake nomor baru."

Suhandi langsung mengiyakan permintaan Roki. Roki dibekali uang untuk membeli nomor baru. Lalu, di sela-sela kegiatan Weweh Plastic, mereka menghubungi nomor misterius tersebut. Ujung-ujungnya, Suhandi merasa kenal dengan si empunya suara. Ternyata itu suara Defri, temannya Donny, yang memiliki jasa joki dan diamond Mobile Legends.

Singkat cerita, Suhandi sedang berada di Grand Metropolitan, Bekasi. Ia akan bertemu dengan Defri di food court.

*****

Hampir dua jam terlewati. Sudah pukul 14.23. Defri datang juga. Situasi di sekitar mereka makin ramai.

"Maksud lo apa telepon gue begitu?" tanya Suhandi geleng-geleng kepala, setelah mencicipi es selendang mayang.

Defri terkekeh. "Justru gue lagi nyelamatin lo. Mending jauh-jauh dari urusan sama keluarganya Donny. Gak beres tuh keluarga!"

"T'rus lo tahu dari mana soal Naomi atau Jumirah hamil?" tanya Suhandi lagi, mengernyit.

Defri merapatkan tubuh ke arah Suhandi, ia langsung berbisik, "Rumah itu agak angker...."

"Berhantu maksud lo?"

"Angker dalam artian yang lain. Intinya... ah, udahlah, intinya, gue punya orang dalam aja, yang bikin gue tahu aktivitas yang terjadi di rumah Tante Rina itu."

Sekonyong-konyong Suhandi terpikirkan Zul. Apalagi, Zul ada di dekat ia da Naomi saat Naomi mencumbui dirinya.

Defri langsung tertawa saat melihat Suhandi gemetar. "Hahaha... be relax, dude. Chill it up. Lagian, pembantu mereka, dan salah satunya yang bernama Naomi, emang udah biasa aja dipake anggota keluarga Tante Rina. Gue aja pernah maen sama Naomi. Nggak pake kondom malah."

"S-serius?" Suhandi mengernyit.

"Double serius!" Defri mengacungkan dua jari. "Dan, lo yakin engkong lo berutang ke Koh Alung? Be careful, Suh. Opa gue, Opa Ferdy pernah masuk scam keluarga laknat itu. Dia sampai masuk penjara, dengan tuduhan penggelapan dana Beta-Mart di awal perilisan minimarket itu."

Suhandi sekonyong-konyong menelan air liur. Ia minum sebentar air mineral dalam botol ukuran 550 mililiter.

"Ikuti insting lo," lanjut Defri. "Turuti saran orang-orang terdekat lo. Jauhi keluarga laknat itu. Maka aman hidup lo. Soal si Naomi, tuh cewek bispak, Suh. Belum tentu hamil sama lo."

Suhandi menatap Defri cukup lama, lalu mengajukan pertanyaan, “Jadi, Opa Ferdy pernah punya hubungan bisnis dengan keluarga mereka?”

“Bukan sekadar hubungan bisnis," Defri menyeruput minumannya. “Waktu Beta-Mart baru mulai berkembang, banyak orang yang ikut masuk. Opa gue salah satunya. Katanya, dia percaya sama orang-orang di balik bisnis itu.”

“Terus gimana kelanjutannya?”

“Ujung-ujungnya berantakan.”

Suhandi mengernyit. “Berantakan yang gimana?”

“Gue nggak tahu semua detailnya. Gue cuma tahu Opa gue pernah diproses hukum karena tuduhan penggelapan dana.”

“Dan lo yakin dia nggak melakukannya?”

Defri terdiam, lalu menjawab, “Kalau gue bilang yakin, itu juga cuma berdasarkan cerita keluarga.”

Suhandi mengangguk. Jawaban itu justru membuatnya lebih berhati-hati. Setidaknya Defri masih membedakan antara fakta yang ia ketahui dan cerita yang ia warisi.

Lihat selengkapnya