Crazy Rich

Nuel Lubis
Chapter #36

Rapat Keluarga yang Tegang

"Astaga, Suh!" seru Etiyati saat mendengar cerita anak satu-satunya tentang kehamilan Jumirah alias Naomi.

Ibu kandungnya Suhandi sampai tidak lagi melanjutkan nasi dengan lauk berupa martabak telur yang tadi dibeli Suhandi di dekat Situ Pondok Jagung.

Sementara ayahnya, Jamal, menarik napas sebentar. Ia cicipi martabak telur itu dulu, sebelum akhirnya berkata, "Apa maksudmu juga, Suh? Jujur, Papa kecewa sama kamu. Buat apa kamu sampai melakukan perbuatan yang bahkan dilarang Alkitab?"

Suhandi menarik napas, lalu berkata, "Semacam strategi aku, Pa, Ma. Aku masih berencana ngorek-ngorek--"

"--ngorek-ngorek apaan?" potong Jamal, menatap galak Suhandi.

"Begini, Pa," sela Etiyati, coba menenangkan suaminya. Lalu ia menceritakan segala sesuatunya. Dimulai dari surat utang Engkong Salim, ayah kandungnya Etiyati beserta enam orang lainnya.

Lalu ada jeda. Jamal mematikan televisi. Ia makan sepotong lagi.

"Bukannya kamu urus saja usaha plastik itu," ujar Jamal, "malah kamu urus sesuatu yang tidak pasti, juga berbahaya. Sudahlah, lupakan itu. Lagian sudah kadaluwarsa utang itu. Ditagihnya juga susah. Bukan tak mungkin, engkong-mu itu kena scam dan malah jadi berutang."

" P-papa juga mikir gitu?" Suhandi mengernyit.

"Itulah kenapa Papa sama Mama nggak pernah ungkit lagi," jawab Jamal. "Engkong kamu yang lainnya, Opa Hansen, juga minta ke kami semua, agar jangan dibahas lagi. Nggak beres itu keluarga. Apalagi yang namanya Alung. Papa dengar, pihak penegak hukum Tanah Air masih nguber-nguber dia dan kroni-kroninya."

Suhandi terdiam. Untuk beberapa detik, ia hanya memandangi piring di hadapannya. Potongan martabak telur yang tadi terasa begitu menggugah selera, kini mendadak seperti benda asing.

“Pa,” kata Suhandi pelan, “kalau memang Engkong Salim kena scam, kenapa ada surat utang?”

Jamal mengangkat alis. “Karena orang yang kena scam bisa saja akhirnya menandatangani sesuatu.”

“Tapi suratnya asli.”

“Menurut siapa?”

Suhandi terdiam sejenak, lalu berkata, “Menurut aku sendiri setelah melihat dokumennya."

Jamal menggeleng. “Justru itu masalahnya. Kamu melihat selembar kertas tua, lalu mulai menyusun cerita sendiri.”

Etiyati mengusap wajahnya. “Papa kamu ada benarnya, Suh.”

“Tapi Mama sendiri yang bilang ada sesuatu yang janggal.”

“Mama bilang janggal, tapi bukan berarti kamu harus masuk terlalu dalam.”

Suhandi menatap ibunya, lalu bertanya, “Ma, sebenarnya apa yang Mama tahu?”

Lihat selengkapnya