Suhandi masih memandangi layar ponselnya. Nama M. Yusuf kembali muncul di kepalanya. Kali ini bukan sekadar nama dari dokumen lama Engkong Salim. Ada sesuatu yang jauh lebih dekat. Sesuatu yang menyangkut Erick, sahabatnya sejak SMP.
“Kenapa diam?” tanya Jamal.
Suhandi mengangkat kepala. “Pa, aku baru ingat sesuatu.”
“Apa lagi sekarang?”
“Pak Muhammad Yusuf.”
Etiyati langsung menatap anaknya, bertanya, “Nama itu?”
“Iya, Ma,” Suhandi membuka beberapa pesan lama di ponselnya. Ia menggulir layar perlahan. “Beberapa waktu lalu Erick cerita rumahnya sedang bermasalah. Awalnya aku kira cuma urusan keluarga atau cicilan. Tapi ternyata rumah itu masuk proses pelelangan.”
Jamal mengernyit. “Rumah Erick?”
“Iya.”
“Yang sahabat kamu sejak SMP itu?”
“Iya, Pa.”
Etiyati ikut mendekat dan menyela, “Terus apa hubungannya dengan Pak Yusuf itu?”
“Itu yang bikin aku curiga," Suhandi menunjukkan layar ponselnya. “Nama calon pemilik rumah itu Muhammad Yusuf.”
Ruangan mendadak sunyi.
Etiyati menarik napas. “Banyak orang bernama Muhammad Yusuf, Suh.”
“Aku tahu, Ma.”
“Jangan langsung sembarangan menyimpulkan.”
“Aku juga belum mau buru-buru menyimpulkan," Suhandi berdiri dari kursinya. “Aku cuma merasa ini terlalu kebetulan.”
Jamal menatap anaknya dengan serius saat berkata, “Jangan membuat hubungan hanya karena nama yang sama.”
“Makanya aku mau cari bukti dulu.”
“Dan kalau ternyata memang orang yang sama? Kamu mau apa?”
Suhandi terdiam. Pertanyaan itu justru membuat pikirannya semakin liar. Rumah Erick bukan sekadar bangunan baginya. Di rumah itu, mereka pernah menghabiskan masa SMP bersama. Mereka pernah mengerjakan tugas kelompok, bermain gim, menonton pertandingan sepak bola, bahkan pernah dihukum guru karena pulang terlalu sore. Rumah itu adalah salah satu tempat yang membuat masa remaja mereka terasa nyata. Sekarang rumah itu hampir pasti berpindah tangan. Bukan kepada orang asing biasa, melainkan kepada seseorang bernama Muhammad Yusuf.
“Katanya rumah itu mau dijadikan apa?” tanya Etiyati.
Suhandi menghela napas. “Jadi rumah makan.”
“Rumah makan?”
“Iya.”
“Namanya?”
Suhandi menatap ibunya, menjawab, “Rumah Makan Padang Kangen Sawah Lunto.”
Jamal mengangkat alis. “Nama yang unik.”
“Katanya konsepnya masakan Minang tradisional. Ada rendang, dendeng batokok, gulai tunjang, ayam pop, sampai lamang.”