Crazy Rich

Nuel Lubis
Chapter #45

Menemani Naomi ke Dokter Kandungan

Terpaksa Suhandi menunda dulu urusan dengan Alung dan utang tersebut. Ada yang lebih harus diprioritaskan. Ini tentang Jumirah alias Naomi.

Semalam Naomi menghubungi Suhandi lewat WhatsApp. Naomi minta diantarkan ke dokter kandungan. Pun, asisten rumah tangganya Tante Rina itu bercerita bahwa dirinya sudah lama tak melakukan hubungan badan. Dengan Donny pun sama. Itu terjadi selama enam bulan.

Dalam sebuah panggilan telepon, Naomi menjelaskannya dengan terisak-isak, "Waktu ngelakuinnya sama Koh Suhandi, wes, tok, aku lagi masa subur-suburnya. Dan, kita ngelakuinnya tanpa pengaman."

Ucapan Naomi itu membuat Suhandi kalang kabut. Sudah harus dipusingkan dengan persoalan surat utang puluhan tahun, lalu ada utang yang harus segera dibayarkan, apalagi penagih utang itu datang terus, eh, harus dipusingkan dengan persoalan... Naomi hamil.

Semalam, setelah Naomi bercerita sambil tersedu sedan, Suhandi tak bisa tidur. Ia aktif mengobrol dengan Roki di WhatsApp. Roki bahkan sempat bercerita tentang sahabatnya yang mana istrinya itu langsung melahirkan pasca sebulan menikah.

"Jarang-jarang sih emang, Koh," tutur Roki semalam, "ada pasutri yang baru nikah, beberapa minggu kemudian, istrinya langsung brojol gitu. Kadang, ngeliat fenomena kayak gitu, pikiran nakal aku langsung bermain aja. Mikirnya apa jangan-jangan sahabat aku itu ngelakuin s*x before married. Ternyata, dia cowok baik-baik. First s*x pertama dia, yah, setelah nikah. Beruntung aja, waktu malam pertama, istrinya emang lagi masa subur."

Intinya, pagi ini, Suhandi akhirnya mengambil keputusan. Ia harus mengantar Naomi ke dokter. Bukan karena ia sudah percaya sepenuhnya pada cerita Naomi. Justru sebaliknya. Ia ingin memastikan semuanya berdasarkan fakta, bukan karena sekadar percakapan WhatsApp, tangisan, atau alat tes kehamilan.

Sekitar pukul sembilan pagi, mobil Suhandi berhenti di depan sebuah klinik kandungan di kawasan Gading Serpong.

Naomi sudah menunggu di depan pintu masuk. Wajahnya tampak pucat. Matanya sembap. Begitu melihat Suhandi, perempuan itu langsung menghampiri.

“Maaf, Koh....”

“Yah, udah, lah... jangan ngomong maaf terus sama aku.”

“Tapi Koh Suhandi pasti marah.”

Suhandi menghela napas. “Aku bukan mau marah. Aku cuma mau tahu sebenarnya apa yang terjadi.”

Naomi mengangguk pelan.

Lihat selengkapnya