Crazy Rich

Nuel Lubis
Chapter #47

Curhat Beto ke Suhandi

Dua hari kemudian, Beto kembali menghubungi Suhandi. Bukan untuk membicarakan pendirian perseroan terbatas usaha plastikya, bukan pula soal Alung, Muhammad Yusuf, atau dokumen utang tahun 1965. Kali ini, Beto justru mengajak Suhandi bertemu empat mata.

“Ketemu di Starbucks Summarecon Mall Serpong, ya, Koh,” ujar Beto melalui telepon. “Gue mau ngobrolin sesuatu. Berdua aja. Gak usah ajak Roki.”

Suhandi sempat mengernyit. “Serius amat, Beto... mau ngomongin soal apaan?”

“Makanya datang aja.”

“Jam berapa mau ketemuan?”

“Sekitar jam tiga sore.”

“Oke.”

*****

Pukul tiga lewat sedikit, Suhandi sudah sampai di Starbucks yang berada di kawasan Summarecon Mall Serpong. Ia melihat Beto duduk di sudut ruangan, mengenakan kemeja biru muda dengan celana panjang hitam.

Di atas meja sudah ada dua gelas kopi. Sudah Beto pesankan untuk Suhandi.

Begitu Suhandi datang, Beto langsung berdiri dan menyapa, “Duduk, Koh.”

Suhandi menarik kursi, langsung bertanya, “Lo mau ngomongin apaan?”

Beto tidak langsung menjawab. Ia justru menyeruput kopinya terlebih dahulu. Barulah ia menjawab, “Gue mau cerita soal istri gue.”

Suhandi mengangkat alis. “Bukannya cerita itu sudah pernah lo ceritain sama Roki?”

“Pernah. Tapi sama Roki gue cuma cerita bagian lucunya doang.”

“Terus sekarang? Apa yang mau diceritain?”

“Sekarang gue mau cerita bagian yang bikin gue hampir gila.”

Suhandi langsung diam.

Beto menyandarkan tubuhnya, lalu berkata, “Waktu itu gue baru menikah. Belum lama banget. Beberapa minggu kemudian, istri gue bilang dia telat datang bulan.”

Suhandi mendengarkan.

“Awalnya gue santai. Namanya juga baru menikah. Gue pikir mungkin emang cepat dikasih anak. Lagi rezekinya aja," Beto tersenyum tipis. “Tapi keluarga mulai bertanya macam-macam.”

“Macam-macam yang gimana maksudnya lo?”

“Begini, Koh. Karena usia kehamilan yang dihitung dokter ternyata tidak sama dengan hitungan orang awam berdasarkan tanggal pernikahan, ada orang yang mulai berkomentar yang bikin gue sempet emosi.”

Suhandi langsung memahami arah ceritanya. Makanya dia menyela, “Jadi ada yang nuduh lo?”

“Bukan cuma satu," Beto tertawa hambar. “Ada yang bilang, ‘Kok cepat sekali hamilnya?’ Ada yang bercanda, ‘Jangan-jangan sudah hamil sebelum menikah.’ Ada yang bahkan menghitung mundur sendiri berdasarkan tanggal pernikahan.”

Suhandi menggeleng. "Sadis!"

“Gue juga waktu itu marah," Beto menatap permukaan kopinya. “Gue tahu kapan gue menikah. Gue tahu kehidupan gue dan istri gue. Tapi ketika orang mulai menghitung berdasarkan kalender mereka sendiri, rasanya nyebelin banget.”

“Terus istri lo gimana?”

“Dia malah lebih tertekan lagi," Beto menghela napas. “Dia sampai menangis. Dia bilang, ‘Mas, kamu percaya sama aku, kan?’”

Lihat selengkapnya