Defri terdiam sesaat. Vijaj yang berdiri di sebelahnya pun tak lagi menunjukkan ekspresi santai. Pembicaraan yang awalnya berkisar pada aksi masyarakat dan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih serius.
“Lo jangan asal menghubungkan semuanya, Don,” kata Defri. “Orang punya investasi di Kalimantan bukan berarti otomatis terlibat dalam perusakan lingkungan.”
Donny terkekeh. “Gue juga nggak bilang begitu, Bos. Gue cuma cerita apa yang gue tahu.”
“Masalahnya, lo sering menyampaikan cerita seolah-olah semuanya sudah terbukti,” sahut Vijaj. “Kalau emang ada dugaan pelanggaran, ya, periksa dokumennya. Lihat izin usahanya, lokasi konsesinya, dan siapa yang bertanggung jawab. Jangan cuma mengandalkan omongan Om Alung atau Tante Rina.”
Suhandi memperhatikan mereka bergantian. Nama Alung kembali muncul, kali ini dalam pembicaraan tentang sumber daya alam, pertambangan batu bara, dan perkebunan kelapa sawit. Ia teringat pertemuannya dengan Vijay di Gading Serpong. Saat itu, ia mendapat petunjuk tentang Ferdinan, seseorang yang konon mengetahui transaksi lama yang melibatkan Alung. Sekarang, informasi yang berbeda kembali bermunculan.
“Don,” Suhandi menyela, “lo bilang Om Alung punya investasi tambang batu bara dan kenalan di perkebunan sawit. Lo tahu nama perusahaannya?”
Donny mengangkat bahu. “Gue nggak hafal semuanya, Suh. Gue bukan sekretarisnya. Lagian ngapain gue umbar ke lo?”
“Kalau begitu, dari mana lo tahu soal rencana pembukaan lahan dekat Banjarmasin dan IKN?”
“Dari pembicaraan orang-orang bisnis. Ada yang bilang begitu. Tapi gue belum melihat dokumen lengkapnya.”
Suhandi mengangguk pelan. “Berarti itu masih informasi yang perlu diperiksa.”
Donny memandangnya dengan senyum miring, lalu membalasnya, “Wah, sekarang lo jadi penyidik lingkungan juga?”
“Gue cuma nggak mau menuduh orang tanpa bukti.”
Ridwan menyilangkan tangan. “Kalau begitu, kita sepakat. Jangan langsung menganggap semua pengusaha jahat, tetapi jangan pula menganggap semua investasi pasti bersih. Yang penting, dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan harus diperiksa.”
“Betul,” ujar Defri. “Gue ikut menyuarakan persoalan ini karena ada masyarakat yang perlu didengar. Bukan karena gue mau menjatuhkan seseorang berdasarkan gosip.”
Donny mendengus. “Silakan aja. Tapi jangan naif. Di dunia bisnis, kepentingan bisa saling bertabrakan. Dan, lagi-lagi, money, money, money. Money will win.”
“Dan itu bukan alasan buat kita berhenti bertanya,” balas Defri.
Vijaj mengangguk. “Kalau ada dugaan pelanggaran, cari bukti yang bisa diverifikasi. Kalau tidak ada, jangan membuat tuduhan.”
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Suhandi justru sibuk memikirkan kemungkinan lain. Apakah investasi Alung di Kalimantan benar-benar berkaitan dengan utang engkongnya? Atau ia sedang mencampuradukkan dua persoalan berbeda hanya karena nama yang sama muncul berulang kali?
Bahkan Suhandi belum tahu. Namun, satu hal mulai terasa jelas. Bahwa semakin banyak informasi yang diterimanya, semakin penting baginya untuk memisahkan fakta dari dugaan.
“Don,” kata Suhandi kemudian, “gue mau tanya sesuatu yang lain.”
“Apa lagi?”
“Kalau lo emang tahu banyak soal Alung, kenapa baru sekarang lo cerita soal Kalimantan?”
Senyum Donny perlahan memudar. Sementara Defri dan Vijaj saling pandang. Donny lalu mengambil cangkir kopinya, menyesap isinya, dan meletakkannya kembali. Barulah ia berkata, “Karena sebelumnya lo cuma bertanya soal utang engkong lo.”
“Dan sekarang?”
“Karena sekarang lo udah terlalu jauh masuk ke urusan orang-orang yang mungkin nggak ingin namanya dibicarakan.”