Crimson Nocturne

ayaweissen
Chapter #2

NIVANKA: Manor Di Lembah Blackmore (1)

***


"Kau siapa?" Ujung anak tangga kayu berderit, kaki berhenti melangkah untuk sekedar mengamati sosok di depan yang melakukan hal serupa, "Jangan bilang kau tersesat." Kedua sudut bibir mengukirkan senyuman sebelum memangkas jarak untuk mendekat, sosok laki-laki di depan kelihatan bergeming.


"Saya hanya kebetulan mencari tempat peristirahatan, kemudian menemukan kediaman anda." Bahasanya sopan, kemudian, melepaskan kedua sarung tangan untuk dimasukkan dalam saku jubahnya, sudut matanya sedikit menyipit ketika bibirnya melengkung membentuk senyuman bulan sabit. "Maaf atas kelancangan saya."


"Tidak masalah, kau boleh beristirahat disini untuk malam ini."


Pandangan kami sempat bertemu dalam jeda waktu yang singkat, matanya berwarna biru gelap ketika nyala lilin menyiram cahaya lembut pada sosoknya, mungkin hanya tebakanku, dalam gesture singkat, langkah kaki memandunya untuk mengikuti, melewati anak tangga yang melingkar untuk mendorong pintu berwarna gelap. Engselnya berderit pelan karena karatan, nyala perapian menjadi sambutan pertama.


"Namaku Nivanka, kau?"


Sebuah pintu di sudut ruangan menjadi tujuanku ketika masuk terlebih dahulu, diikuti olehnya yang kini menyapu ruangan sekeliling. Mendorong pelan pintu tersebut, seorang wanita berusia beberapa tahun diatasku menatap dengan gusar, jari telunjuk segera kuletakkan di depan bibir, kemudian mengisyaratkan padanya untuk menjamu tamu.


"Siapkan seperti biasanya." Begitu permintaan tersebut disertai anggukan, lekas ku tutup pintu untuk membalikkan badan, rupanya dia mengamati ku sedari tadi, "Silahkan duduk sebentar disini, kedapatan tamu mendadak adalah hal tidak terduga." Aku mempersilahkan untuk duduk di satu-satunya kursi ruangan dengan penghangat tungku yang apinya menyala. Memberikan hangat yang kontras dengan dinginnya udara pegunungan diluar manor, "Oh iya, siapa namamu?"


Sudut bibirnya tertarik sedikit keatas, bedanya, kali ini sudut matanya tidak menyipit, "Nama saya Sen." Nama yang cukup aneh.


"Hanya itu saja?" Tidak penting memang mengetahui nama seseorang terlebih untuk ukuran orang asing yang tidak punya pengaruh, "Kau yakin itu bukan nama samaran?" Aku bermaksud bergurau, menerka-nerka seandainya dia memang seseorang yang menyembunyikan identitasnya. Bukan hal yang aneh sama sekali dan aku tidak peduli.


"Memang itu tujuannya."


Balasan yang tidak terduga, kupikir dia akan panik dan meluruskan nya, dengan mengatakan kalau Sen memang adalah nama lengkapnya. Namun siapa sangka, tatapannya menelisik lebih jauh, seolah mencari-cari ketidaknyamanan akan balasannya yang datang serupa ejekan.


"Kalau begitu mungkin aku harus menjaga jarak denganmu? Meskipun dilihat-lihat kau tidak membawa senjata dalam jaket 'kan."


"Siapa bilang saya tidak membawa apa-apa?"


Alisku mengerut mendengarnya membalikkan argumen dengan menodongkan pertanyaan, kuakui dia mungkin sedikit tidak waras, pasalnya kini kakinya bergerak dari satu sudut ke sudut ruangan lain, seolah mengamati dengan tatapannya yang segera berpendar ke segala arah sebelum berlabuh pada tatapanku.


"Ternyata aku memang harus berhati-hati."


"Anda tinggal disini sendiri?" Nadanya keluar dalam cara yang tidak yakin, memegang dagu saat berjongkok di depan tungku perapian, "Manor sebesar ini pasti sulit dikelola seorang diri, meskipun kelihatannya banyak ruangan yang terbengkalai mengingat di lorong tadi saya menemukan meja yang berdebu."


"Kenapa? Kau takut kalau ternyata aku seorang pembunuh?"


Pandangannya jatuh dengan cara yang dingin, namun bibir menukik senyuman yang agaknya dibuat-buat, "Saya hanya penasaran, bertanya bukannya hal yang wajar? Kalau boleh sekedar memberikan pertanyaan serupa, apa anda tidak takut kalau justru saya yang adalah pembunuh disini?" Punggung tanganku menekuk diatas bibir, tertawa hambar.

Lihat selengkapnya