Crimson Nocturne

ayaweissen
Chapter #3

MANOR DI LEMBAH BLACKMORE (2)

***


"Sayang sekali, Tira, kau dan majikan kesayangan mu itu tidak akan bisa lolos semudah itu, sebaliknya, setelah ini, aku juga akan membunuh tamu tidak diun—"


Aku tidak mengerti, kupikir seharusnya Althea masih terikat di dalam kamar dan rencana kami berjalan sempurna, terakhir tinggal melumpuhkan Albert, namun, sosok Tira dalam pandanganku justru limbung ke samping, menggelepar di lantai sambil meraih udara kosong dengan mata yang tidak fokus, dalam genggaman tangan Althea, sebilah garpu dua sisi terangkat di udara, tubuhnya membelakangiku dengan sempurna.


Tanpa ragu, atau memang tidak sempat terbesit keraguan dalam benak.


Belati yang tergenggam erat di tangan kananku, mencari pendaratan dengan sempurna di bahu kanan Althea, dalam sepersekian detik, bahunya merosot dengan rintihan tertahan, berkat itu pula, satu sentakan dan belati yang ditarik, kembali bermuara di punggung kiri. "S-sial!" Rintihan tersengal napasnya datang dalam satu sentakan berbalik, memaksa kaki ini mundur saat senjata di tangannya diayunkan dalam gerakan layu. "Sialan kau Nivanka!"


Terengah, tubuhnya limbung kedepan, mencengkram bahuku tanpa sempat mengelak, belati di tangan sepenuhnya tertancap di punggung Althea. "Kau yang sialan! Pengkhianat!" Belasku tidak terima, kami berdua jatuh dengan tubuhnya yang menindih tubuhku.


Pandangannya terlihat menjadi tidak fokus saat napas keluar dengan cara yang terdengar tersengal, mengangkat tangannya setinggi yang dibisa dan dari tenaga yang tersisa, "Kau harus mati!" Bisiknya dengan lemah, aroma amis darah seolah menguap dalam lembab dan dinginny aroma malam. "Kau harus mati, Nivanka."


Sebelum racun yang masuk kedalam darahnya menyebar, memutus kesadaran, dua taring logam berada dalam ancang-ancang siap dilayangkan, sebelah tangannya mencengkram erat leherku. Bahkan dalam keadaan terdesak, refleksnya sangatlah bagus sebagai seorang mata-mata terlatih, sehingga tidak peduli seberapa berusaha memberontak dan melawan, melepaskan diri dari cengkeraman, tenaga yang kami punya memberikan hasil yang berbeda.


"Nona, apa yang—"


Logam dingin yang nyaris menyentuh kulit wajah, terbenam di sebelahku, hampir melukai. Sahutan petir memantulkan bayangan pada sosok yang berdiri di depan, memegangi belati yang baru kusadari, dicabut dari punggung Althea, membuat genangan merah darah dari darah yang keluar dari sana membanjiri lantai, gaun pakaianku dan meresap pada karpet sederhana.


"Nona, nona Nivanka!" Pekik Emma, pelayan yang bertugas mengurus keperluan logistik dan dapur, derap langkahnya tidak teratur memijak lantai terburu-buru, seolah dikejar waktu. "Nona, nona! A-anda!?!" Wajahnya yang pias mencoba menahan untuk tidak terkejut melihat mayat yang ku singkirkan dari tubuhku.


Pandangan pertama jatuh pada gemetar di tangan. Aku membunuhnya, padahal rencana awal tidaklah seperti ini. Aku telah menjadi pembunuh.


"Nona—"


"Dia hanya mengalami shock, sebentar, kemarilah, pelayan ini sudah tidak bernapas. Kemungkinan ujung logamnya mengandung racun. Ada aroma samar air distilasi daun ceri diantara anyir darah."

Lihat selengkapnya