***
Gerimis menyapu bersih dedaunan yang terbuka, menurunkan kabut sejauh mata memandang dengan aroma tanah basah yang pekat, disela-sela langkah yang menapaki lereng bukit, berhati-hati supaya tidak tergelincir dan berguling menghantam tanah ataupun batu besar dan juga batang pohon. Masihlah sayang dengan nyawa ini, karenanya, dalam gulita tanpa pencahayaan yang berarti selain lentera, meraba pun mengandalkan seberkas memori, kutemui serpihan bebatuan yang menjadi penanda bahwasanya telah sampailah aku pada tempat yang dituju.
Gereja terbengkalai dilereng lembah, hanya perlu berjalan sepuluh menit untuk menemukannya dari manor tempatku.
Langkah membawa kaki menapaki jalan menuju kompleks pemakaman, seharusnya diantara salah satunya, ada jalan menuju ruangan rahasia. Telapak tangan meraba permukaan kasar bebatuan makam, mencari-cari celah kecil diantaranya untuk meloloskan jari telunjuk. Ketemu. Makam paling ujung, jemariku tergores belah bebatuan tajam hingga terasa perih, kutarik sekuat tenaga hingga urat dileher mencuat, napas berembus menyisakan panas yang menyesakkan. Hasilnya tetap nihil, apa aku salah?
Menyusuri deretan makam dengan indra peraba telapak tangan dan sebuah lentera temaram, hanya satu yang memiliki celah. Aku yakin yang tadi merupakan pintu masuknya, akan tetapi, mengingat seberapa kecilnya dan kemungkinan hanya bisa dilalui oleh orang dewasa, tidak mungkin mereka memasukkan barang-barang melaluinya, akan ada yang tidak muat.
"Ayo, berpikir Nivanka!" Kugigit jemariku dengan gemas, memutar otak untuk mencari akal bagaimana aku bisa masuk kedalam sana. "Gereja disini...."
Buru-buru kuseret tungkai ini untuk lekas mendekati bangunan gereja terbengkalai, bangunannya masih berdiri kokoh, namun tiada pelita didalamnya, bahkan derit engsel pintu yang berkarat pun membuktikan seberapa lama bangunan ini ditinggalkan, terakhir kali aku menginjakkan kaki kesini ialah saat usia enam tahun.
Tidak ada aroma apek yang seharusnya, namun sisa-sisa dari sesuatu yang kukenali menguap terbawa udara yang terjebak.
Suara rintikan samar hujan diluar menggaung bergema dari dalam, pakaianku pun setengah basah akibatnya. Deretan kursi jemaat yang tidak terawat menyambutku selain gelap pekat seolah menenggelamkanku kedalamnya. Lekas-lekas kutangkup kedua tangan ini seusai meletakkan lentera, berdo'a dan memohon pengampunan karena telah lama tidak kulakukan. Setitik rinai diantara pelupuk mata jatuh menggenangi pipi disaat secercah gelisah menghimpit dada, lekas kuusap dengan punggung tangan. Aku tidak punya banyak waktu.
Segera kususuri sudut-sudutnya, mencari-cari pintu disetiap ubin dibawah, berharap menemukan satu karena kuyakin ada didalam sini. Sepatuku bergema diantara keheningan, berpacu dengan malam yang semakin bergulir. Seluruh kursi-kursi jemaat telah periksa, bahkan menggesernya seandainya pintu itu tersembunyi diantaranya.
Deru napasku semakin memburu, pertanda seberapa lelah aku telah berjalan sejauh ini. Tidak kunjung menemukannya, langkah ini dipercepat untuk menaiki beberapa anak tangga, melewati mimbar yang biasa digunakan pendeta, aku tidak berpikir pintu yang kucari ada disana.
Kaca patri besar, tatapanku jatuh pada altar dihadapan, mengelilinginya untuk berjongkok, meraba-raba ubin dingin seperti yang kulakukan pada bangku-bangku jemaat, sudut ruangan dan bagian manapun yang bisa dijangkau. Netraku membola, kutemukan guratan dipinggirannya yang menandakan tempat ini pernah dibongkar atau semacamnya, lentera disampingku menyoroti ubin, mencari-cari cincin atau sesuatu yang dapat menarik pintunya, kalau memang inilah jalan yang digunakan.
Cincin bulat setebal jari kelingkingku tertanam didalamnya, membuatku meloloskan jemari untuk mengaitnya, tak seberat bagian makam, kali ini dengan mudah kutarik benda tersebut, meletakkan kembali lentera disamping untuk menarik pintu besi sekuat tenaga.
"Benar-benar ada?!"