Bolehkah kukatakan bahwa Arsene begitu keras kepala? Entah apa isi otaknya didalam sana, namun yang jelas, lelaki itu bahkan tidak ingin angkat kaki dari kediamanku begitu diusir, pun, Emma yang begitu ngotot memaksa ikut denganku, memangnya dia akan berguna untuk apa? Menyusahkan, aku tak ingin dia terluka ataupun terlibat dalam masalahku lebih jauh, sudah cukup kehilangan bagiku, tak ingin kutambah penyesalan dengan hidup bergelimang kepahitan dalam menghadapi perpisahan.
Sekantong kepingan perak kuberikan pada Emma yang kini mengambil satu-satunya kuda yang tersisa didalam kandang, "Kau hanya memberatkanku jikalau ikut denganku, Emma, tidakkah kau kasihan dengan Nona-mu ini?" Sayup-sayup kudengar dia menahan isak tangis, kedua mata jernihnya pun kini terlihat berkaca-kaca seolah hendak menumpahkan emosi saat rinainya hampir turun.
Punggung tangannya mengusap kedua sudut mata dengan kasar, menelan isak tangis dalam-dalam sebelum berujar dengan suara yang serak, "Maafkan saya jikalau selama ini hanya membebani Nona." Emma bodoh, harusnya aku yang mengatakan hal tersebut padanya! Namun biarlah, kalau dengan begitu dia pergi dengan tenang, maka akan kulakukan apapun untuk melukai perasaannya dan menunjukkan seberapa terbebaninya aku dengan kehadirannya.
"Bukannya berlebihan sekali mengatakan itu padanya?"
Dedaunan rimbun didepan disibak, hati-hati melangkah menuruni lereng dengan pencahayaan seadanya dari rembulan yang menyusup melalui celah-celah kanopi pepohonan, "Emma memang bodoh, karena itulah dia mudah terpancing dengan gertakanmu dan aku tidak suka manusia bodoh seperti itu." Bila bergerak turun, akan sampai kebawah sana pada permukiman dan pos penginapan sebelum mendapatkan kereta tumpangan, "Membawanya hanya akan mempercepat kesialan datang padaku sekali lagi."
"Untuk seorang gadis dari keluarga terhormat, mulutmu sangat kasar sekali lho, Nona Nivanka, mungkin maksud saya Lady Nivanka." Sindir Arsene yang mengikuti di belakang sana, "Seperti tidak pernah diajari tata krama saja."
"Tata krama hanya untuk manusia, sementara aku tidak."
Tungkai begitu berat saat diseret, lumpur didepan benar-benar menghisap sol sepatu bot seolah ingin menahan pergerakan, beberapa kali hampirlah kudapati diri ini terjerembab kedepan. Beruntungnya, itu tidak terjadi sebab keseimbangan masih bisa kupertahankan, lebih dari itu, lepas dari seorang sepertinya yang lebih sulit dibanding menghadapi medan dari lembah yang berkabut pun akar pepohonan seolah berusaha menjegal pergelangan kaki.
"Sebenarnya, saya tidak memahami mengapa lady, maksud saya Nona begitu terburu-buru meninggalkan manor anda, bahkan sampai repot menanggalkan pakaian mewah yang biasanya jadi kesombongan dan kebanggaan para wanita kalangan terhormat."