Crumbs: The Simulation

Indah Leony Suwarno
Chapter #2

The Simulation: Kejanggalan

2


Hoseok mencoba bergerak, dan ya... berhasil. Namun kegelapan rasanya menyempit, menghimpit kepalanya. Seakan dirinya sedang ditarik masuk ke balik kelopak matanya sendiri. Dan itu berhasil membuatnya panik.

Tidak ada kursi.

Meja, atau pun benda yang sebelumnya ada.

Beban tubuhnya terasa lengkap dan menyatu pada satu tumpuan: di telapak kakinya. Ia berdiri.

Di atas tanah.

Dan bukan pada lantai marmer.

Kasar, dingin, dengan butiran kecil yang menekan telapak kakinya melalui sol sepatu. Hoseok menunduk. Sepatu yang kini ia kenakan bukanlah sepatu yang tadi ia pakai di kamar. Modelnya sederhana, gelap, seperti sepatu yang dibuat khusus untuk berjalan jauh, bukan untuk gaya atau bentuk formalitas.

Udara sekitar terasa menusuk paru-parunya ketika ia menarik napas. Terlalu dalam.

Campuran aroma menyelip masuk: debu basah, logam, serta sesuatu yang hangus samar--seperti bekas petir. Atau kabel gosong?

Hoseok berdeham pelan.

Suaranya terdengar. Bukan gema, bukan distorsi.

Langit membentang di atasnya: abu-abu pucat, seperti lukisan yang lupa diselesaikan. Matahari menyembul malu-malu dari balik awan dengan bentuk beragam--memberi sedikit cahaya kuning. Bukan kuning yang menyala, hanya seperti goresan krayon. Cahayanya jatuh menyamping di bawah kakinya.

Ia menarik napas lagi: kali ini udara masuk dengan lancar--tidak terlalu bersih, tidak pula terlalu kotor. Seperti udara pagi yang sedikit tercemar asap knalpot dua sampai tiga kendaraan.

"Jangan berdiri di tengah begitu," nada suaranya datar, hampir bosan. "Kalau jatuh atau tertabrak, akan merepotkan." Nadanya menginterupsi pergerakan Hoseok yang mundur.

"Jangan lupa siapa yang sering merepotkan." Ketus Hoseok pada pemuda dengan postur tegap di sampingnya. "Tidak ingat ketika kau merusak speaker di sanggar tariku, huh?"

Pemuda itu--Namjoon, tersenyum kikuk, "sudah lewat beberapa bulan..." katanya.

"Bagaimana dengan lamaran kerjamu?" Hoseok mengganti topik, bertanya pada Namjoon yang memegang map coklat di tangannya. Khas pelamar kerja.

Lihat selengkapnya