3
Cahaya menyebar pelan dari balik gedung-gedung, seperti seseorang menyalakan lampu ruangan besar tanpa suara.
Pagi datang tanpa matahari terik.
Jalanan mulai hidup bukan dengan hiruk-pikuk, tapi dengan kebiasaan: pintu dibuka, langkah kaki diseret, suara logam beradu pelan, musik pelan yang samar.
Taehyung menaiki tangga apartemen dengan napas sedikit terengah. Lantai tiga selalu terasa lebih jauh dari lantai dua. Tentu saja.
Dinding lorong dicat warna krem pucat, ada noda lama yang tidak pernah benar-benar dibersihkan--bekas tangan, goresan furnitur, garis abstrak alat tulis, sesuatu yang tampak menyerupai angka tapi tidak pernah selesai ditulis.
Ia berhenti di depan pintu bernomor 3E.
Kunci di tangannya terasa dingin. Masih dingin bahkan setelah diserahkan oleh petugas apartemen di lobi tadi.
Klik.
Pintu terbuka. Aroma kopi menyambutnya. Ia tahu asalnya dari mana--sebuah pengharum ruangan menempel di dinding kamarnya. Matanya cepat memindai sekitar. Terlampau biasa.
Taehyung menghentikan langkahnya. Ia yakin, kamar ini kosong. Ia tinggal sendiri. Setidaknya... seharusnya begitu.
"Hai,"
"Oh, hai? Kupikir ini kamarku? Atau aku salah masuk?"
"Tidak, ini benar kamarmu. Aku bekerja paruh waktu di sini, sejak tadi seharusnya aku sudah selesai membersihkan. Tapi aku mengulur waktu" Ujarnya.
"Oh, begitu rupanya. Terima kasih" Taehyung berkata.
"Dengan senang hati. Selamat beristirahat." Pemuda itu sibuk pada troli yang isinya ember, pel, sapu dan alat kebersihan lainnya.
"Iya," jawabnya sopan.