4
Siang bergerak pelan di apartemen itu.
Lobi tidak pernah benar-benar ramai, tapi juga tidak pernah kosong. Kursi panjang berlapis vinil cokelat tua menempel di dinding, satu kipas angin berputar malas di langit-langit: bunyinya lebih nyaring daripada embusan anginnya. Di meja resepsionis, seorang perempuan paruh baya mencatat sesuatu di buku besar yang sampulnya sudah sedikit mengelupas.
Jungkook berdiri agak ke samping, dikelilingi oleh tasnya.
Dua koper besar.
Satu ransel.
Beberapa kardus yang diikat seadanya.
"Untuk satu orang?" Tanya perempuan itu, tanpa benar-benar mengangkat kepalanya.
"Iya," jawab Jungkook. Ia menggeser kopernya agar tidak menghalangi jalan. "Saya baru pindah."
"Barang yang banyak untuk satu orang." Gumam perempuan itu.
"Ya?" Jungkook kurang mendengar.
"Kamar 3F," katanya. "Di depan 3E."
Jungkook mengernyit. "Bukannya... kamar saya di samping 3E?" Ia rasa sudah memesan kamar jauh-jauh hari. Sistem macam apa yang dipakai apartemen ini?
Perempuan itu berhenti menulis di buku.
Menatap buku.
Menatap Jungkook.
Berulang hingga 3 kali.
"Di samping 3E sudah terisi," katanya, seolah itu sudah lama begitu.
Jungkook ingin bertanya sejak kapan, tapi kalimat itu tidak pernah keluar. Ia hanya mengangguk. Malas memperpanjang masalah yang sebenarnya tidak begitu penting. "Baik." Ujarnya.
Di kursi panjang, seorang pria tinggi duduk sambil memutar kunci di jarinya. Ia menoleh ketika Jungkook mendekat.
"Kau juga di lantai tiga?" Tanya pria itu, melirik kode di kunci kamar Jungkook.
"Iya," jawab Jungkook. "Baru pindah."