5
Di kamarnya, Jungkook sudah bersiap untuk ke minimarket--dia berbohong tentang bekerja sebagai kasir di minimarket yang letaknya tak jauh dari apartemen.
Semalam mereka habis berkumpul di kamar Seokjin: mengobrol ringan dan saling melempar guyon. Sesekali juga Namjoon menceritakan urban legend yang terkenal di kampung halamannya, Ilsan. Sebuah kota di Provinsi Gyeonggi-do, Korea Selatan.
Jika jadwal mereka tidak bentrok, maka mereka akan menghabiskan malam di kamar salah satunya. Berpindah-pindah.
Beberapa minggu lalu, mereka berkenalan dengan Min Yoongi: pemuda berkulit pucat yang ekspresinya terbaca dingin. Namun sebenarnya dia peduli pada sekitarnya. Ternyata, Yoongi penghuni pertama lantai tiga.
Taehyung berkenalan dengan Park Jimin di lobi saat pemuda itu sedikit susah mengobrol dengan turis asing. Taehyung membantu--tidak, mereka sama-sama tidak pandai berbahasa asing. Taehyung hanya menjawab yes no yes no. Yang entah bagaimana, berakhir dengan turis itu hampir meninju rahang Taehyung dan berakhir keluar dari lobi dengan wajah yang penuh amarah.
Sejak saat itu, Taehyung dan Jimin menjadi dekat. Dan Taehyung mengajak Jimin bergabung dengan yang lainnya.
Dan untuk Hoseok... dia sudah lama berteman dengan Namjoon, tentu saja tidak sulit berteman dengannya juga. Dia anaknya ceria dan banyak bicara. Kalau tertawa, semua orang di sekitarnya akan ikut tertawa. Semacam... happy virus.
Tujuh orang penghuni lantai tiga itu kian akrab. Mereka kerap mengobrolkan hal-hal kecil: air panas yang suka mati, suara pipa tengah malam, tetangga lantai empat yang suka menyetel musik terlalu pagi. Tidak ada obrolan yang terlalu pribadi. Tidak ada yang terlalu penting.
Mungkin.
Pagi itu riuh seperti biasanya. Namun cukup riuh untuk pagi-pagi seperti ini. Jungkook bisa mendengar beberapa langkah terdengar buru-buru. Menuju satu arah.
Ia segera membuka pintu, penasaran.
"Ada apa?" Tanya Jungkook begitu melihat Taehyung juga baru keluar dari kamarnya.
"Entahlah, seperti perkelahian." Jawab Taehyung sekenanya.
Jungkook berhenti sebentar. Berpikir sejenak: penghuni apartemen ini sangat peduli satu sama lain.
Ketika ia merapat ke kerumunan, samar-samar telinganya menangkap suara lirih.
Suara tangisan.
Pelan.