Crumbs: The Simulation

Indah Leony Suwarno
Chapter #6

The Simulation: Kode Rahasia

6


Gema musik datang dari lantai atas.

Tidak keras, tapi cukup untuk menembus dinding tipis apartemen: dengan beat cepat, bas yang pecah, diulang tanpa malu-malu. Jungkook mengerutkan dahinya, matanya berat. Jelas mengantuk. Ia lirik jam di ponselnya.

23.12.

Astaga, manusia jenis apa yang masih memutar musik di tengah malam begini.

Ia menghela napas pelan. Apartemen murah memang selalu jujur soal satu hal: privasi adalah sebuah kemewahan.

Ia berniat sendiri, kalau musik itu tidak berhenti di jam dua belas nanti, ia akan naik ke atas dan menegur siapa pun--dari mana pun suara itu berasal.

Jika bukan karena tugasnya, ia tidak akan memilih tempat seperti ini. Terlalu terbuka. Terlalu banyak suara. Terlalu banyak orang yang tidak ingin ia perhatikan--dan sebaliknya.

Ia bangkit, menyambar jaket tipis, lalu keluar kamar.

Lorong lantai tiga sepi. Hanya tersisa 3 kamar yang dari celah bawah pintu--lampunya masih menyala. Bau kopi menguar bercampur dengan sesuatu yang digoreng terlalu lama. Pintu-pintu tertutup rapat, tapi kehidupan bocor dari celah-celahnya.

Jungkook berhenti di depan pintu 3E.

Ia mengetuk.

Dua kali.

Tiga.

Dua.

2-3-2.

Tidak sampai tiga detik, kunci berputar. Taehyung menyembulkan kepala ketika pintu terbuka sedikit, menampilkan wajah setengah bangun, rambutnya berantakan, tapi matanya langsung fokus begitu melihat siapa yang berdiri di sana.

"Masuk," katanya singkat. Membuka pintu agak lebar agar tubuh tegap Jungkook mudah lolos ke dalam.

Pintu tertutup kembali. Suara musik dari lantai atas teredam, tersisa dengung jauh. Namun lumayan terdengar daripada di kamarnya.

"Kau dengar juga?" Tanya Taehyung, menunjuk langit-langit dengan dagunya.

"Sulit untuk tidak," jawab Jungkook, mengekor di belakang Taehyung yang hendak menyalakan kompor--menyeduh kopi sachet.

Taehyung tersenyum tipis. "Anggap saja latihan."

Lihat selengkapnya