Crumbs: The Simulation

Indah Leony Suwarno
Chapter #9

The Simulation: Ambulans

9



Malam datang perlahan, seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu. Apartemen mulai menemukan ritmenya sendiri.

 

Lampu-lampu apartemen menyala satu per satu. Dari jendela 1E, halaman kecil di bawah tampak lebih gelap, hanya diterangi satu bohlam kuning yang menggantung rendah. Suara televisi dari lantai bawah terdengar samar—berita yang tidak benar-benar didengarkan siapa pun.

 

Tangga menjadi jalur lalu lintas kecil. Orang naik sambil membawa kantong plastik berisi belanjaan murah, turun dengan jaket di lengan, atau berdiri sebentar hanya untuk merokok di dekat jendela lorong. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang benar-benar santai.

 

Taehyung turun lebih dulu. Di lobi, Jimin duduk di kursi panjang sambil memainkan ponselnya. Ia menoleh ketika Taehyung lewat. "Kau juga keluar?"tanyanya.

 

"Iya," jawab Taehyung. "Butuh udara.”

 

Jimin tersenyum. “Kalau begitu, jangan ke depan. Sampahnya belum diangkut, baunya menusuk."

 

Mereka mulai berjalan beriringan keluar gedung, berdiri di bawah kanopi kecil. Jalan di depan apartemen tidak ramai, hanya beberapa motor lewat pelan. Tak lama kemudian, Hoseok muncul dengan langkah ringan, membawa dua gelas kopi kertas.

 

"Kalian kelihatan butuh ini,"katanya ceria, menyodorkan satu ke Jimin, satu ke Taehyung.

 

"Terima kasih," kata Taehyung.

 

"Murah," tambah Hoseok cepat. "Jangan berharap rasanya Istimewa.”

 

“Murah itu keistimewaan di tempat seperti ini," sahut Jimin. Menyesap kopinya.

 

Mereka tertawa kecil.

 

Dari balik pintu kaca, Jungkook terlihat turun dengan tas selempang. Wajahnya netral, langkahnya biasa. Tak ada yang menebak ia baru saja membahas rencana serius beberapa jam lalu.

 

"Keluar juga?" tanya Hoseok.

 

"Ke warung," jawab Jungkook singkat.

 

"Bareng," kata Hoseok. "Aku mau beli sesuatu."

 

Mereka berjalan berempat. Jarak di antara mereka alami: tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Seperti orang-orang yang kebetulan punya tujuan sama.

 

Di warung kecil seberang jalan, Yoongi sudah lebih dulu duduk di bangku plastik, kopi hitam di tangan. "Kalian lama." katanya tanpa menoleh.

 

"Malam itu subjektif." Jawab Hoseok Santai.

 

Seokjin muncul hampir bersamaan dengan Namjoon yang membawa beberapa kertas di tangannya—baru saja dari tempat fotocopy. Sementara Seokjin membawa kantong belanja berisi mie dan telur.

 

“Lihat,” katanya sambil mengangkat kantong. "Investasi jangka panjang."

Lihat selengkapnya