11
Pagi itu—di hari Senin, seharusnya menjadi hari di mana orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Namun ada yang berbeda di halaman depan kantor polisi kota Seoul: tidak lagi menyerupai halaman kantor. Ia berubah menjadi lautan manusia.
Spanduk-spanduk terangkat tinggi, sebagian bertuliskan nama produk yang sudah akrab di lidah masyarakat. Sebagian lagi hanya berisi kemarahan yang tidak sempat dirapikan.
"Ini obat!"
"Bukan narkoba!"
"Kami butuh itu!"
Teriakan datang dari segala arah, menekan barikade polisi yang semakin rapat.
Awalnya damai. Setidaknya terlihat begitu. Namun massa terus berdatangan—seperti arus sungai yang tidak tahu kapan harus berhenti. Polisi mulai kelelahan. Perintah datang bertumpuk, saling bertabrakan.
Di dalam gedung, layar-layar monitor menampilkan sudut berbeda dari kerumunan yang sama. "Kita tidak bisa menahan ini lebih lama lagi," kata seorang Perwira.
Tidak ada jawaban cepat.
Di halaman, seorang pemuda bertopi hitam berhasil menusuk seorang polisi baru—tampaknya baru, ia seakan belum pernah berada di posisi berhadapan dengan pengunjuk rasa.
Pemuda itu menyunggingkan senyum setelah berhasil membuat keributan yang tak terelakkan. Barisan depan polisi merapatkan diri dengan awas. Beberapa orang yang merasa dipukul polisi merasa tidak terima dan semakin anarkis—memukul angin, menendang sembarangan, jatuh ke tanah.
Korban mulai berjatuhan: ada yang pingsan karena sesak hingga berujung terinjak, ada yang terluka akibat senjata tajam, ada yang berhasil dilarikan ke rumah sakit, beberapa dinyatakan meninggal di tempat, dua orang polisi meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
Akhirnya, perintah itu turun.