Crumbs: The Simulation

Indah Leony Suwarno
Chapter #12

The Simulation: Tes Loyalitas

12



Akhir-akhir ini, Namjoon lebih sering pulang larut. Bukan karena lembur di kantor biasa, tapi karena berkas. Terlalu banyak berkas. Terlalu banyak formulir yang meminta hal-hal yang seharusnya sudah ada di sistem.

 

Ia duduk sendiri di lantai kamar Yoongi dengan laptop terbuka—yang lainnya sedang makan di sofa. Jaraknya hanya beberapa langkah. Tumpukan dokumen cetak di sampingnya. Kopi sudah dingin. Matanya lelah, tapi tetap tajam.

 

Pendaftaran jajaran menteri kesehatan bukan perkara sederhana. Namun nilainya—penilaian awal, skor kompetensi, rekam jejak—semuanya bersih. Bahkan lebih dari cukup.

 

Ia tahu itu.

 

Dan mungkin itu yang membuat prosesnya terasa... dipersulit. "Verifikasi ulang," gumanya sambil membaca e-mail terbaru. "Padahal ini sudah diverifikasi."

 

Katanya untuk meminimalisir nepotisme dan suap. Katanya suoaya jabatan ini tidak dipegang orang sembarangan. Alasan yang masuk akal. Terlalu masuk akal.

 

Syukurnya, demo besar itu sudah berakhir.

 

Jenderal polisi yang rambutnya memutih itu akhirnya muncul di layar kaca, berdiri kaku, meminta maaf secara terbuka. Kalimatnya rapi. Nada suaranya rendah. Ia mengakui “kekeliruan prosedural” tanpa menyebut korban satu per satu.

 

Media menerima itu sebagai penutup.

 

Produk farmasi yang sempat ditarik, kembali dijual. Rak apotek terisi lagi. Iklan kembali muncul di jam tayang utama. Masyarakat bergerak maju: seperti biasa.

 

Seakan lupa. Padahal tidak semua lupa. Di kantor, ada meja kosong yang tidak pernah terisi lagi. Di rumah sakit, ada nama yang tidak lagi dipanggil di ruang tunggu. Di beberapa rumah, jam makan malam menjadi terlalu sunyi.

 

Namun negara memilih melanjutkan.

 

Namjoon membaca satu formulir yang meminta data tambahan—lagi. Riwayat Pendidikan sudah diminta tiga kali. Pernyataan integritas diminta dua kali. Surat rekomendasi diminta ulang, meski belum genap seminggu sejak pengajuan terakhir.

 

Lihat selengkapnya