15
Di lantai empat, tubuh itu tergeletak menyamping.
Seorang lelaki muda. Terlalu muda untuk wajah sepucat itu. Rambutnya masih rapi—seperti baru disisir untuk foto kelulusan yang belum ia unggah ke media sosial. Sekitar tujuh belas tahun, mungkin baru merayakan kelulusannya minggu lalu.
Darah segar terlihat mengalir dari kepalanya. Sebelah kiri. Bukan sayatan, namun seperti hantaman benda tumpul.
Pemuda itu membuka matanya setengah, "tolong..." suaranya parau, patah-patah.
Mulutnya bergerak, seakan ingin mengatakan sesuatu—banyak hal—namun napasnya habis lebih dulu. Kepalanya terkulai.
"Angkat pelan-pelan," suara seseorang terdengar tegang.
Seokjin sudah menelepon polisi tadi. Nada suaranya terjaga, profesional, seolah ini hanya insiden kerja. Taehyung menelepon ambulans begitu sampai di lantai empat.
Tubuh pemuda itu akhirnya terangkat setelah beberapa orang mundur—terlalu banyak tangan yang ingin membantu. Itu bagus, namun sedikit lebih sulit.
Di saat yang sama, Taehyung menyelinap. Meloloskan diri dari kerumunan. Masuk ke kamar pemuda itu yang pintunya terbuka setengah.
Di dalam, ruangan berantakan. Kursi terguling, buku-buku dari rak berserakan di lantai. Bukan perampokan, jika dilihat dari tidak adanya barang berharga yang hilang—semuanya ada di tempatnya. Laptop yang terbuka, ponsel di atas kasur, dan dompet terbuka di bawah nakas sebelah kanan.
Jejak perkelahian jelas terbaca dari posisi barang.
Jungkook menyusul masuk. "Suara keras itu," katanya, menunjuk ke lantai, "dari sini." Ia berjongkok, sebuah kotak kayu kecil tergeletak miring.
"Dia jatuh menimpa ini?" Tanya Taehyung.
"Tidak, ini dijatuhkan." Jawab Jungkook. "Dia mungkin melindungi ini dari seseorang." Imbuhnya.
Yoongi masuk tanpa suara, matanya langsung tertuju pada kotak itu. "Apa isinya?" Tanyanya.
Sebelum ada yang menjawab, suara sirine mendekat. Polisi datang tidak lama kemudian. Terlalu cepat, seolah memang sudah berada di sekitar.
Kotak kayu itu segera diamankan sebagai barang bukti. Kamar dipasangi garis pembatas. Para penghuni dilontarkan pertanyaan cepat, singkat dan tanpa empati berlebih.
Di lobi apartemen, Hoseok berdiri sedikit menjauh. Wajahnya pucat serta tangannya menggenggam ponsel terlalu erat. Terlalu mencuri perhatian untuk keadaan seperti ini. Polisi tidak bisa tidak melirik ke arahnya.
Hoseok merasakan perutnya melilit. Ia mencoba menenangkan dirinya. Menarik napas, mengembuskannya perlahan.
Beberapa menit kemudian, pintu depan apartemen terbuka. Namjoon masuk dengan mantel hitam tergantung di lengannya. Basah di bagian bawah. Rambutnya juga sedikit lembap.
"Hujan," katanya singkat ketika seseorang bertanya. "Habis mengantar berkas."
Hoseok menoleh cepat, "hujan?"
Namjoon mengangguk. "Deras sebentar."
Namun Hoseok tahu—di luar apartemen, tidak ada hujan. Aspal kering. Udara memang lembap, tapi tidak basah. Belum sempat ia bertanya lagi, Jimin datang menyusul.
Jidatnya sedikit basah. Rambut di pelipisnya menempel. "Habis dari gym," katanya ringan. "Ramai sekali di sana." Lanjutnya.
Hoseok tersenyum ragu. Namjoon mengangguk, menerimanya tanpa pikir panjang. Namun di kepala Hoseok, ada sesuatu yang tidak sejajar.
Ia berdiri di tengah lobi, merasa semakin kecil. Bukan karena takut. Tapi karena dunia di sekitarnya.
Ambulans membawa pemuda itu pergi. Dua orang yang menjadi tetangga kamarnya turut ikut.