16
Kotak kayu itu akhirnya dibuka. Bukan di depan semua orang. Bukan di lobi apartemen. Namun di ruang barang bukti kantor polisi kota.
Dua gembok kecil dilepas. Kayunya tidak retak. Tidak lecet. Seolah pemiliknya merawatnya dengan sangat hati-hati. Terasa seperti... baru.
Saat tutupnya terangkat—
Semua mata tercengang. Di dalamnya, bukan uang dengan nominal banyak yang memerlukan nyawa untuk melindunginya. Tidak ada narkoba atau pun senjata berbahaya lainnya.
Isinya hanya sebuah perangkat kecil berwarna hitam matte. Seukuran buku saku, dengan satu port di samping dan lampu indikator biru yang masih berkedip pelan. Sedikit redup.
Untungnya masih hidup.
Di bawahnya, ada kartu tipis putih. Seperti kartu identitas, namun tanpa nama. Ketika dibalik, sebuah kalimat bercetak hitam tebal menyambut para polisi. Bertuliskan:
[KALIAN TERLAMBAT. DAN KURANG TELITI.]
Polisi saling pandang. Rahang Jungkook mengeras, tangannya terkepal dan meninju meja sekali.
Salah satu dari mereka—lebih muda—menelan salivanya, "ini bukan alat biasa, pak." Ungkapnya.
Mereka menyambungkannya ke komputer forensik. Dan layar langsung menyala.
Isinya bukan file video, bukan pula audio panjang yang butuh waktu berjam-jam untuk mendengarnya. Melainkan log.
Ratusan baris data. Timestamp. Titik koordinat. Nama lokasi.