Crumbs: The Simulation

Indah Leony Suwarno
Chapter #17

The Simulation: Yoongi dan Penghuni 4G

17



Yoongi membuka matanya ketika sudah dua jam ia mencoba tidur namun tidak bisa. Tidak seharusnya dia terlalu mengkhawatirkannya. Dia punya koneksi di kepolisian yang bisa dengan mudah menghapus jejaknya. Dan lagipula, tidak ada kamera yang menangkap dirinya saat itu. Kecuali perempuan itu, yang ia temui di lorong menuju lift servis.

 

Dia berkata bahwa seorang pemuda di apartemen tahu identitas Yoongi dan memiliki rekaman video sebagai bukti keterlibatan Yoongi dan dirinya sebagai pengedar obat-obatan terlarang.

 

Malam itu, Yoongi mengetuk pintu kamar 4G dengan pelan. Bukan ketukan ragu, namun ketukan yang terukur. Seperti biasa melakukannya.

 

Pemuda yang baru saja merayakan kelulusan itu membuka pintunya. Wajahnya datar, matanya kosong namun terlalu fokus untuk disebut lelah. Dan dia tahu betul siapa yang bertamu ke kamarnya malam itu.

 

"Ada yang mau kau tanyakan, hyung?" Suara pemuda itu bergetar. Terdengar seperti berusaha distabilkan.

 

Yoongi melirik ke dalam kamar pemuda itu. Lalu ke ponselnya, lalu ke laci kayu di sudut ruangan. "Boleh masuk?" Tanyanya. Itu jelas bukan pertanyaan. Karena Yoongi masuk tanpa pernah dipersilakan.

 

Dinding apartemen terlalu tipis, dan Yoongi mengutuk itu. Suara pukulannya pasti terdengar ke tetangga kamar. Untung saja, di sebelah kanan-kiri adalah orang kolot yang suka menyalakan musik terlalu keras.

 

Tulang belakang pemuda itu menghantam tembok. Napasnya tercekat. Ponselnya terlempar ke sembarang arah, membentur lantai.

 

Yoongi bergerak cepat. Terhitung. Efisien. Tidak ada emosi berlebihan yang ia tunjukkan. Tangannya mencengkram leher pemuda itu.

 

"Kau tahu sebanyak apa?" Suaranya rendah, seakan menghantam telinga. "Ada banyak orang yang suka cari perhatian. Dan aku tidak suka orang seperti itu." Cengkraman Yoongi semakin kuat.

 

Pemuda itu mencoba bicara, namun udara susah masuk. "Itu... cuma... apa yang kulihat..."

 

"Masalahnya," kata Yoongi pelan, mencondongkan tubuhnya, "yang kau lihat, seharusnya tidak dilihat." Tekanannya bertambah.

 

Lihat selengkapnya