Crumbs: The Simulation

Indah Leony Suwarno
Chapter #19

The Simulation: Taehyung dan Jungkook

19



Taehyung dan Jungkook bertemu tanpa janji terlebih dulu. Seolah ada naluri tersendiri yang membawa mereka ke sana—bukan di apartemen. Bukan pula di kantor polisi setempat.

 

Di warung kecil dekat sungai—yang sejak pagi dipasangi garis kuning, tapi sore itu sudah dibuka kembali. Seakan tak pernah terjadi apa-apa.

 

Taehyung duduk lebih dulu. Jaketnya terbuka, rokok belum dinyalakan. Jungkook datang lima menit kemudian, membawa dua kopi kaleng. Seolah tahu Taehyung akan ada di sana: mencari sisa-sisa petunjuk.

 

"Yang satu pahit," katanya singkat, meletakkan kaleng di depan Taehyung.

 

Taehyung mengangguk. "Kau masih ingat?"

 

Jungkook duduk, tertawa sedikit, "kalau aku lupa, aku tidak akan di sini."

 

Mereka diam beberapa detik. Sungai mengalir pelan dan terlihat tenang. Mata Taehyung menyapu seluruh tempat, mencari sesuatu yang mungkin saja tertinggal. Sedang Jungkook menerawang jauh, menatap awan bentuk abstrak yang bergerak di langit.

 

"Cuma tangan," ujar Taehyung memecah keheningan.

 

Jungkook menatap air. "Itu bukan pesan untuk publik."

 

"Menurutmu ditujukan kepada siapa?" Taehyung menoleh, menatap tepat di kerutan di kening Jungkook yang terlihat samar. Temannya ini—terlihat tua sebelum waktunya, semua karena kasus yang datang saling bertumpuk.

 

Jungkook menggeser kaleng kopinya, memutar cincin aluminiumnya perlahan. "Buat orang yang tahu nilai tiap bagian tubuh."

 

Taehyung mengangguk, "organ." Ia lalu membuka ponselnya. Tidak menunjukkan foto karena Jungkook pasti sudah lebih dulu melihatnya.

 

"Residu pengawet medis," katanya. "Levelnya tinggi. Bukan kelas amatiran." Lanjutnya.

 

"Bukan pembunuhan emosional. Bukan balas dendam, bukan spontan." Jungkook menyambung.

 

"Ini bisnis." Mereka saling pandang.

 

Taehyung mengembuskan napas. "Menurutmu, transaksi organ ini terhubung dengan jaringan narkoba?"

 

Jungkook tampak menimbang kata. Kemudian menggeleng pelan. "Entahlah, semua bukti terkesan abu-abu. Tidak ada yang begitu jelas hingga kita bisa menyebut satu nama." Katanya seraya menatap sungai. "Setidaknya satu nama."

 

"Aku punya satu nama," ungkap Taehyung setengah berbisik.

 

Jungkook tidak menoleh, tidak terkejut dengan ucapan Taehyung. "Aku juga."

 

"Di apartemen kita..." Taehyung menggantung kalimatnya. Takut kecurigaannya menjadi tuduhan tanpa bukti.

 

"Aku pernah melihat Namjoon membawa alat medis yang tidak seharusnya dia punya." Jungkook mengungkap lebih dulu. "Itu bukan urusanku, tapi yang menggangguku adalah, dia terlalu terburu-buru ke kamarnya. Seperti takut dilihat."

 

Alis Taehyung berkerut, "aku bukan Namjoon."

 

"Yoongi?" tebak Jungkook.

 

Taehyung mengangguk pelan. "Dia terlalu misterius."

 

"Beberapa orang misterius hanyalah sekumpulan orang malas dengan hubungan antar manusia yang transaksional." Ujar Jungkook. "Kita butuh bukti langsung, bukan analisa belaka." Imbuhnya.

 

"Menurutku, dia punya sesuatu yang disembunyikan." Taehyung menjeda dua detik. "Gerak-geriknya, permainan katanya, serta cara dia membaca situasi dan ketenangannya yang jelas setiap kejadian terjadi."

 

"Jimin lebih masuk akal," kata Jungkook.

 

"Dia dokter hewan—" keduanya berpandangan. Lalu saling membuang muka ke arah sembarangan, terlalu pusing. "Semuanya bisa jadi tersangka kalau kita membuat skenario."

 

"Betul. Semuanya tergantung bagaimana cara pandang kita bekerja." Sahut Taehyung.

 

Lihat selengkapnya