22
Seokjin sedang tersenyum—senyum profesional simetris—melayani dua pelanggan yang sedang membandingkan kain. Lampu toko memantul cantik di permukaan kaca. Dunia terlihat normal.
Pintu terbuka lagi, bel toko berbunyi pelan mengiringinya.
Seorang lelaki berjas hitam masuk. Potongan jasnya sederhana, mahal tanpa perlu berteriak mengenai nominal. Rambutnya rapi, wajahnya bersih—bukan tampan yang mencolok, tapi jenis wajah yang membuat orang lain merasa harus berdiri lebih tegak memandangnya.
Langkahnya pelan teratur, berat dan penuh kepastian.
Udara toko terasa mengeras. Orang-orang dunia gelap menyebutnya Tuan Hyunbin. Bukan sekadar nama biasa, bukan pula gelar resmi. Hanya sebuah... peringatan.
Seokjin langsung tahu: dia tamu VIP.
"Selamat siang," kata Seokjin, nadanya sempurna. Tidak terlalu rendah, tidak pula sok ramah.
Hyunbin menatap sekeliling. Rak pakaian, cermin, kasir—semua orang di ruangan.
"Usia belia," katanya datar. "Lima belas tahun mungkin pas." Lanjutnya.
Beberapa pelanggan saling pandang. Seorang perempuan tersenyum kecil—mungkin mengira ia sedang memesan sesuatu untuk anaknya. Sebuah hadiah, seragam atau gaun pesta kecil.
Seokjin tidak. Ia tahu bahasa ini. Ia paham betul apa yang dipesan lelaki itu.
Hyunbin mengeluarkan secarik kertas dari saku jasnya dan meletakkannya di meja kasir.