23
Namjoon menutup pintu lemari perlahan—terlalu pelan, seolah bunyi engsel sekecil apa pun bisa mengundang sesuatu yang tidak kasat mata untuk mendengarnya.
Brankas miliknya terkunci kembali.
Ia berdiri beberapa detik, telapak tangannya masih menempel di pintu kayu. Napasnya baru terasa setelah semuanya aman. Buku-buku itu—catatan kronologi, jam, pola, nama—hampir saja terlihat malam itu. Hampir. Jika saja Jimin tidak terlalu sibuk mengomentari papan tulisnya, jika Taehyung tidak mengomentari buku-buku filsafatnya, jika Jungkook tidak ribut soal makanan... satu detik saja lebih lama, semuanya bisa terbuka.
Dan Namjoon tahu, sekali terbuka, tidak ada jalan kembali.
Ia duduk di tepi ranjang, pikirannya kembali ke kamar itu—
Kamar Taehyung.
Sebelum Taehyung tinggal di sana, kamar itu milik Jackson—atau setidaknya itu nama yang mereka gunakan. Seorang lelaki yang tidak cocok dengan narasi bunuh diri. Ia adalah lelaki yang penuh semangat dan berambisi menjadi seorang polisi.
Jackson pernah tertawa ketika Namjoon memperingatkannya.
"Orang jahat selalu meninggalkan pola," katanya waktu itu, matanya berbinar. "Tugas polisi cerdas cuma satu: cukup sabar untuk melihatnya."
Jackson dan Namjoon sering bertukar temuan—waktu kematian yang tidak sinkron, saksi yang menghilang, jalur distribusi organ yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Apartemen mereka bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah simpul, persimpangan menuju titik temu.
Lalu sore itu, Jackson mengiriminya pesan pendek, tidak seperti biasanya.
[Aku tahu siapa pelakunya. Mari bertemu, sekarang. Di kafe biasa.]
Namjoon sedang di bus, map lamaran kerja kementerian di pangkuannya. Ia ingat sempat tersenyum kecil—ironis—mengurus masa depan resmi sambil mengejar masa lalu berdarah.
Ia tidak pernah sampai ke kafe itu. Teleponnya berdering sebelum ia turun. Dari Hoseok, berkata bahwa Jackson meninggal di kamarnya—bunuh diri dalam narasi polisi. Katanya overdosis. Jackson mengonsumsi obat penenang karena depresi pasca batal menikah dengan kekasihnya.