25
Lampu neon menggantung rendah di ruangan yang terlalu putih—berdengung pelan seperti serangga yang kelelahan. Meja besi di tengah ruangan memantulkan cahaya dingin ke wajah Hoseok. Tangannya diborgol ke kursi—tidak terlalu kencang, namun cukup untuk mengingatkannya bahwa tubuh ini bukan lagi sepenuhnya miliknya.
Seorang penyidik duduk di seberang. Usianya sekitar empat puluh. Ekspresinya datar, mata yang terlalu sering melihat kebohongan sampai lupa seperti apa wujud kejujuran.
Nama di dadanya: Detektif Park.
"Nama lengkap," katanya.
"Hoseok—Jung Hoseok." Jawab Hoseok otomatis.
Park terlihat mencatat sesuatu, "kamu tahu kenapa kamu di sini?"
Hoseok mengangguk, kepalanya terasa berat. "Katanya, penculikan."
"Dan pembunuhan," tambah Park tenang.
"Saya tidak membunuh siapa pun." Hoseok berujar lirih, sedikit penekanan.
"Kita lihat," kata Park. Ia mendorong sebuah tablet ke tengah meja dengan layar yang menyala.
Memutar sebuah rekaman CCTV: di lorong apartemen, jam di pojok kanan atas menunjukkan pukul 17.02.
Menampilkan seorang gadis berjalan dengan cepat, mengenakan jaket sekolah, rambutnya diikat rendah. Ia menoleh ke belakang—tampak gelisah.
Lalu—seseorang masuk frame. Itu Hoseok. Ia tampak berbicara pada gadis itu. Suaranya tidak terdengar, namun gesturnya ramah. Hoseok tersenyum.
Kamera glitch sesaat.