Lucius datang dan menangkap Djak. Dikatakan menangkap seluruh tubuh Djak juga tidak bisa, tapi dalam sekejap Lucius muncul di belakang Djak sambil mencekiknya.
“Cobalah bertahan dari serangan ini.” Djak menoleh ke belakang, namun reaksinya terlambat. Serangan Lucius sudah lebih dulu menghantamnya.
Berkat kemampuan tubuhnya yang sekarang sudah berkembang, Djak tidak lagi langsung terpotong seperti tadi. Kekuatan Lucius saling bertubrukan dengan daya tahan tubuh Djak. Hingga hanya membuatnya terpental ke belakang. Lucas akhirnya terlepas dari cengkeraman Djak. Lucas langsung jatuh dan terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya.
“Uhk..uhk…uhk.”
Daya rusaknya berkurang, pasti karena perubahan pada tubuhnya.
“Lucas, kau tidak apa-apa?” Lucius berpaling pada Lucas. Membantunya berdiri.
“Ya, untungnya.” kata Lucas menghela napas lega. “Siap melanjutkan pertarungan?”
“Tentu saja.” jawabnya.
“Aku rasa dia punya rahasia tertentu pada tubuhnya. Lihat saja, tiba-tiba tubuhnya membesar dan jadi lebih keras daripada yang sebelumnya.”
“Aku rasa begitu. Teknik memotongku juga tidak memberikan dampak seperti sebelumnya.”
“Kalau begitu apa yang harus kita lakukan pada ketahanan tubuhnya itu? Jika kita tidak melakukan sesuatu pada pertahanannya lebih dulu kita tidak akan bisa menyerangnya.”
Lucius tampak berpikir sejenak, “Lucas, apa menurutmu kau mampu menambah kekuatan pada tiap ayunan pedangmu itu?”
“Yah, sejujurnya aku tidak tahu.” Lucas memiringkan kepalanya. “Tapi akan kucoba mengayunkannya lebih keras.”
Djak bangkit berdiri, dia bangun dengan sangat santai seolah serangan Lucius sebelumnya tidak memberikan dampak apapun padanya. Tubuhnya masih memperlihatkan kondisi yang normal, tidak ada satu pun luka atau dampak yang diterima di tubuhnya. Yang menandakan memang benar serangan Lucius sebelumnya sama sekali tidak memberikan dampak yang berarti pada tubuh Djak.
Djak berjalan menghampiri Lucius dan Lucas. Itu adalah langkah yang tidak diduga karena dia sampai begitu saja di hadapan mereka dengan sekejap. Baik Lucas dan Lucius keduanya terkejut melihat Djak yang tiba-tiba ada di depan mata mereka.
“Gawat!” Lucas berseru.
Sialan, kenapa dia tiba-tiba ada di sini.
Sambil menendang Lucas, Djak mencengkeram leher Lucius dan kemudian membantingnya ke bawah.
“Waktu bermain-main sudah selesai.”
Djak menahan Lucius di bawah kakinya. Hanya dengan satu kaki, Lucius tak berdaya. Dia tidak mampu mengembalikan beban tenaga yang diterimanya. Djak jelas tidak sedang melakukan apapun selain mengunci Lucius di bawah kakinya. Matanya memindai seluruh tubuh Lucius.
“Mari kita lihat berapa nilai-mu.” Ucapnya sambil menggunakan sejumlah energi pada matanya. Melalui mata yang sudah dilapisi energi, Djak memindai Lucius.
Tidak peduli seberapa keras Lucius mengerang dan memberontak agar terlepas dari Djak, ia tetap tak bergerak. Kekuatan Djak saat ini dua kali lipat dari yang sebelumnya.
Jumlah energi yang dimiliki Lucius saat ini lumayan banyak. Jika Djak bisa melapisi matanya dengan energi, maka dia pasti akan menyadari seberapa banyak jumlah energi Lucius.
Kondisi Lucius saat ini sedang berkembang. Baik dalam hal energi maupun fisik. Penggunaan kekuatan yang selama ini tidak ia gunakan, secara tidak langsung memberikan sengatan terhadap energi yang ada di tubuhnya. Karena hal ini, perlahan energi yang selama ini mengendap dalam tubuhnya mulai menyesuaikan.
Bersamaan dengan itu, fisiknya juga ikut menyesuaikan. Bukan dari ukuran atau bentuknya, melainkan ketahanannya. Tubuhnya saat ini berusaha menyesuaikan dengan jumlah energi yang dimilikinya. Proses masih berlangsung bahkan saat ia dalam keadaan terdesak.
“Jumlah yang banyak, cukup untuk membuatku kenyang.” Bagaimana bisa anak seperti mereka punya energi sebanyak itu. Djak membatin sambil berganti pandang ke arah Lucas terlempar.
Djak kemudian mencengkeram kerah baju Lucius dan mengangkatnya. Dengan satu tangan mencengkeram, Djak perlahan mulai melahap energi Lucius.
Energi itu ia serap melalui tangannya. Mengalir ke seluruh tubuhnya dan memberikan sensasi tersendiri bagi Djak. Sebuah rasa baru, Lucius memiliki jenis energi yang berbeda dengan Djak. Ini memberikan dampak pada penyatuan dalam tubuhnya.
Djak tidak selalu bisa menyesuaikan jenis energi setiap orang begitu saja. Karena tidak semua orang memiliki jenis energi yang sama. Mencampur jenis energi yang berbeda memerlukan kesiapan pada tubuh. Diperlukan wadah yang kuat untuk menampung energi yang beragam.
Penyatuan energi membutuhkan waktu untuk menyesuaikan. Jika Djak memang sering mengkonsumsi energi orang lain, seharusnya dia memiliki tubuh yang bisa dengan mudah melakukan penyesuaian pada jenis-jenis energi. Meski tetap memakan waktu.
“DEYAAA!”
Teriakan Lucas datang bersama dengan pedang besarnya. Yang meluncur menuju tepat ke arah kepala Djak. Djak tidak punya pilihan lain selain menghindar atau kepalanya akan terpenggal. Proses penyerapan membuat energinya melemah dan itu terpaksa harus ia tunda. Karena syarat penyerapan energi yang dilakukan Djak adalah ia tidak boleh terdistraksi sama sekali. Dan itulah kenapa Djak ingin sekali menyingkirkan salah satunya terlebih dahulu.
“Ini menjengkelkan. Diganggu saat makan itu adalah hal yang kubenci.” Djak mengerutkan dahinya. Dia kembali mengumpulkan energinya dan membentuk zirah dan menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki.
Djak melepaskan Lucius dan terbang ke arah Lucas. Lucas belum merencanakan langkah selanjutnya setelah melempar jauh-jauh pedangnya. Terkadang spontanitas bisa menjadi sangat berbahaya. Jika dia bisa menghindari serangan Djak saat ini, dia memiliki kesempatan untuk mengambil kembali pedangnya.
Lucius bangkit dan perlahan mengumpulkan energinya. Memfokuskan semuanya pada satu titik. Menghirup napas, lalu menghembuskannya.
Djak datang kepada Lucas dengan tinju yang sudah dilapisi energi. Kecepatan terbangnya tidak cepat, dan mudah sekali dibaca arahnya. Lucas punya sekian banyak waktu untuk memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan selanjutnya. Namun saat Djak semakin mendekat, Lucas tidak ada rencana untuk menghindarinya sama sekali. Setelah kebingungan beberapa saat, Lucas kemudian memikirkan rencana untuk menahan serangan Djak dan membalasnya.
Tanpa pedang, apa yang bisa aku lakukan untuk menahannya?
Waktu berlalu cukup lama dalam pikiran Lucas. Djak sudah berada di depan mata dan Lucas belum memiliki solusi untuk menahan serangannya. Secara spontan Lucas mengangkat tangan kanannya ke depan dan begitu saja serangan Djak terhenti tanpa melukai sedikit pun wajah Lucas.
Baik Djak dan Lucas sama-sama bingung dengan apa yang sedang mereka lihat.
Tangan itu, tangan yang berhasil menghentikan serangan Djak, tidak lagi seperti tangan Lucas. Bukan sebuah tangan manusia. Memiliki ukuran dua kali lebih besar dari ukuran tangan manusia umumnya. Berwarna hitam pekat dan cakar seperti beruang.
“Whoa—apa yang baru saja terjadi?” Ucap Lucas melihat kedua tangannya yang berubah drastis. Perubahannya sendiri terjadi pada seluruh tangannya. Itu hanya mencakup lengannya saja, tidak termasuk dengan kedua bahunya.
Selama beberapa saat Lucas jatuh dalam kekaguman dengan perubahan yang terjadi pada kedua tangannya. Tapi Djak tidak sepolos Lucas dan membuang waktu percuma, dia kembali melakukan serangan pada Lucas. Menggunakan kedua tangannya secara bergantian—mengarahkan tinjunya pada Lucas.
Semua serangan beruntun itu dapat dihindari Lucas secara spontan tanpa menyia-nyiakan gerakan. Saat ini dia jadi lebih spontan—insting bertarungnya tiba-tiba meningkat. Tanpa melakukan pertahanan sama sekali, Lucas mampu menghindari semua serangan Djak. Dengan semua aksi menghindar yang dilakukan Lucas, Djak menjadi lebih gelisah dari sebelumnya.