Kabut pagi Paris menyelimuti langkahnya yang masih gemetar. May baru saja menginjakkan kakinya di Universitas Sorbonne Nouvelle, tepatnya di departemen Arts et Métiers du Spectacle – sebuah mimpi yang akhirnya terwujud. Gedung-gedung tua yang megah seakan berbisik menceritakan kisah panjang sejarah seni dan musik. Gadis itu masih tak percaya ini nyata. Setelah semua kerja keras, akhirnya ia sampai.
Kemudian, di tengah keramaian mahasiswa, matanya menangkap sosok yang sangat familiar. Rambut hitam yang sedikit berantakan, senyum tipis yang selalu ia ingat, dan mata tajam yang selalu memikatnya.
Tidak mungkin… Edward? Jantungnya berdebar kencang. Dengan ragu, May mendekat. Benar dia. Edward, pria yang ia temui di bandara. Sebuah perkenalan singkat, yang masih diingatnya hingga hari ini. Gadis itu tak pernah menyangka akan kuliah bersamanya.
“Wow… Dia sangat tampan,” seru Cerise, yang juga memperhatikannya dari jauh.
“Kau terus menatapnya. Apa kau menyukainya?” goda Lucie yang memperhatikan gerak gerik May.
Dia tanpa sengaja melirik ke arah gadis itu, mata mereka bertemu. Dia tersenyum manis padanya dan perlahan berjalan ke arahnya. “Hai?” sapanya lembut.
“Itu kamu? Aku tidak menyangka akan bertemu kamu di sini,” ucap pria itu sangat ramah sambil memperlihatkan senyum manis manisnya. Senyum yang masih sangat kental diingatan gadis itu.
Namun meskipun begitu, May yang tak mau mudah tergoda dengan pria asing sepertinya hanya membalas senyuman dingin.
“Ekhem! Jadi kalian sudah saling kenal, ya?” goda Lucie, menyikut May, membuatnya kesal.
“Jangan malu. Kalau kamu menyukainya, katakan saja. Dia tampan,” bisik Cerise, membuatnya terkejut.
“Ini takdir, bukan? Bahwa kita benar-benar kuliah di universitas yang sama dan bertemu seperti ini.” Kata-katanya sungguh mengejutkan gadis itu. Dia masih terlihat sama, penuh percaya diri.
Dengan senyum khasnya itu dan tatapan menggodanya tak bisa membuatnya lupa. Namun May tetap mempertahankan ekspresi dinginnya. “Mungkin... ini hanya kebetulan,” jawabnya acuh tak acuh.
Dengan penuh percaya diri, pria itu berkata, “Ini bukan sekadar kebetulan, ini takdir yang tertulis. Bayangkan, kita bertemu di universitas yang sama, di departemen yang sama! Ini ditakdirkan untuk terjadi.”
“Hai... Dia pria yang kamu temui di bandara, kan? Aku melihatnya sekilas. Tidak heran wajahnya terlihat familiar,” seru Cerise yang diam-diam memperhatikan pria itu bahkan saat pertemuan pertama gadis itu dengannya.
“Hmm... Ini bukan kebetulan, May,” bujuk Lucie, membuat May tak bisa menahan rasa malu. “Kalau memang takdir, kamu pasti akan bertemu dia lagi. Benar, kan?”
Edward melebarkan senyumnya. Sudah pasti ia menyetujui apa perkataan teman-temannya. Tapi gadis itu tak mau menghiraukannya. May menggigit bibir bawahnya. Ia mengakui bahwa ia memang tampan, tapi sungguh... gadis itu tidak suka perjodohan karena ia tipe orang yang harus memilih, bukan dipilih.
“Perjodohan bisa menjadi hal yang indah, kau tahu? Ketika dua jiwa ditakdirkan bersama, takdir akan menemukan cara untuk menyatukan mereka.” Edward menatapnya, mengamati ekspresi gadis itu. Seperti ia bisa merasakan keraguannya. Yang mungkin tertulis jelas di wajahnya.
May menatapnya dengan pandangan sinis karena pria itu terlalu percaya diri. “Perjodohan tidak selalu menyenangkan. Pertemuan yang dipaksakan dan kita berdua tidak saling mengenal karakter masing-masing.”
Pria itu tak bisa menahan tawa, menanggapi May sangat keras kepala. “Kau benar, kita belum saling mengenal. Tapi begitulah hidup, bukan? Saling mengenal orang, membangun hubungan, dan menemukan pasangan yang tepat.”
Dengan penuh kejengkelan, May berjalan pergi dan mendengarkan pria itu tertawa melihat kepergiannya dengan raut kesal, langkahnya semakin cepat. May mencoba menghindar darinya, tapi pria itu tidak akan membiarkannya pergi semudah itu.
“Tunggu!” teriak Edward. “Jangan lari begitu cepat. Kita akan berada di kelas yang sama, kau tahu!”
May tersentak. Dengan cepat, ia dan teman-temannya berbalik. “Oh, sungguh? Jangan mimpi.”
Kemudian pria itu berjalan mendekatinya, seringai di wajahnya. “Oh, aku tidak bermimpi. Aku melihat daftar kelas. Nama kita berdampingan.”
Kedua temannya menepuk pundaknya sebagai isyarat agar ia segera memeriksa ponselnya. Mata gadis itu melihat daftar kelas secara online dengan teliti dan ternyata benar! Nama Edward ada di sana. Gadis itu benar-benar tidak menyadarinya.
May menutup matanya rapat-rapat, alih-alih mencoba menghindarinya, ternyata mereka memang satu kelas.
Dengan penuh keberanian, pria yang tubuhnya menjulang tinggi itu melangkah lebih dekat, matanya terpaku pada mata May. “Lihat? Aku sudah bilang kita satu kelas. Sepertinya kau terjebak denganku selama semester ini.”