Orientasi untuk mahasiswa baru Jurusan Musik dan Seni di kampus dimulai dengan sesi perkenalan dosen dan fasilitas kampus. May duduk di barisan belakang, diam-diam mencatat poin-poin penting, menghindari kontak mata dengan Edward yang duduk beberapa kursi di depannya.
Dia tampak bersemangat, banyak bertanya, tapi May tetap diam, fokus pada materi yang disajikan. Suasana kampus yang ramai dan energik tidak bisa menggoyahkan sikapnya yang dingin dan acuh tak acuh.
Edward sesekali melirik ke arahnya, duduk diam di barisan depan, mencatat dengan tekun.
Saat Edward mendekat, gadis itu memalingkan wajah, enggan menatapnya. Ia memberikan kertas kepadanya. “Jangan sampai ketinggalan, ya. Ini penting!” May berusaha untuk tidak peduli dan terus menulis. Tapi saat ia pergi, gadis itu merasa penasaran dengan apa yang telah ia tulis. Sembunyi-sembunyi membukanya tanpa sepengetahuannya.
Diam-diam Edward memperhatikan dari kejauhan. Ia tahu kalau pada akhirnya May akan membuka kertas tersebut.
Isi catatan itu sederhana, hanya beberapa kata yang ditulis dengan tulisan tangannya yang cukup rapih. “Temui aku di perpustakaan malam ini pukul 7 malam. Jangan terlambat.”
May mendengus kesal dan langsung meremas kertas itu lalu membuangnya. Kemudian bangkit dari kursi dan berjalan keluar ruangan.
Di kantin, May bercerita kepada teman-temannya tentang ajakan Edward yang membuatnya bingung. “Apa kalian benar-benar tidak mengerti sikapnya? Kenapa dia begitu ngotot mengejarku? Dia juga memintaku pergi ke perpustakaan malam ini pukul 7. Apa yang ingin dia lakukan memintaku pergi ke sana jam 7 malam. Kampus tutup jam segitu.”
May berceloteh panjang lebar dan mereka hanya menanggapi dengan tertawa, membuatnya kesal. “Aku serius! Kenapa kalian menertawakan aku?”
“Meskipun kampus ditutup, perpustakaan akan selalu terbuka untuk asrama,” jawab Lucie dengan ekspresi geli karena ketidaktahuannya.
Edward duduk beberapa meja jauhnya, santai menikmati apel sambil mendengarkan May berbicara dengan teman-temannya. Ia begitu bersemangat dan ekspresif, dan jelas bahwa May bingung dengan tindakannya.
Edward tidak bisa menahan senyum kecil saat mendengar pertanyaan-pertanyaan frustasinya, geli dengan kebingungannya.
Tiba-tiba Edward mendekat dan teman-temannya yang kurang ajar meninggalkan gadis itu sendirian dengan Edward. “Mau ke mana kalian?” teriaknya.
“Nikmati waktu kalian berdua!” teriak Lucie. Edward terkekeh saat teman-temannya tiba-tiba meninggalkannya membuat gadis itu terjebak bersama pria menjengkelkan ini.
“Sepertinya hanya kamu dan aku sekarang,” godanya, dengan senyum licik di wajah sambil duduk di sebelah May.
Gadis itu mendengus kesal. “Tidak juga, masih banyak orang di sini,” jawabnya dingin dan tatapannya sinis.
Edward tersenyum mendengar respon May yang acuh tak acuh, geli dengan usahanya yang selalu mencoba mengabaikannya. “Tentu, ada orang lain di sekitar sini.” Pria itu setuju dan melanjutkan, “tapi tidak ada satupun dari mereka di sini bersama kita. Hanya kamu dan aku saat ini.”
May cepat-cepat memanggil pelayan kantin dan pelayan wanita pun berjalan mendekat. “Ada yang bisa saya bantu? Ada yang ingin anda tambah?”
May memintanya sesuatu, “Bisakah kamu duduk di sini? Dan tanyakan saja padanya apa yang ingin dia pesan.” Cepat-cepat ia bangkit untuk pergi membantah apa yang baru saja pria itu katakan. Sekarang Edward duduk sendirian dengan pelayan kantin itu.
Edward terpaku saat May bangkit dan meminta pelayan kantin untuk duduk di sampingnya dan mengambil pesanan. Tatapannya tak percaya saat gadis itu pergi, meninggalkannya dengan pelayan kantin. Ini bukan seperti yang ia harapkan akan terjadi.
“Ada yang ingin dipesan, Tuan?” tanya pelayan kantin perempuan dengan ramah.
Edward sedikit gelisah di tempat duduk saat pelayan kantin bertanya pesanan. Ia sedikit terganggu dengan apa yang baru saja terjadi. “Eh, bolehkah saya memesan secangkir kopi?” jawabnya, masih mencoba mencerna apa yang sedang gadis itu rencanakan.
“Oh, ya, Tuan. Satu kopi akan segera siap.” Pelayan wanita itu pergi menyiapkan pesanan.
Beberapa saat kemudian, dua paper cup kopi tersaji di meja, membuat pria itu mengernyit bingung—ia hanya memesan satu. Sebuah ide muncul: kopi kedua, satunya akan diberikan untuk May, isyarat halus dari tekadnya.
Edward mengambil salah satu cup, menaruhnya di hadapan gadis itu, lalu duduk di sampingnya. “Ini,” tawarnya membuat May tersentak. Ia menunggu reaksinya dengan sabar.
May mengerutkan kening bingung. “Aku tidak memesan kopi?”
Edward terkekeh melihat ekspresi kebingungannya. “Aku tahu kau tidak memesan,” katanya, dengan nada suara lembut. “Aku memesannya untukmu. Jangan khawatir, tidak beracun.”
May menarik napas dalam-dalam lalu menolaknya, “Aku tidak toleran terhadap kafein. Baik kopi maupun teh.”
Edward tidak menyangka akan mendapat respon itu, dan itu membuatnya terkejut. “Oh, aku tidak tahu,” ucap pria itu, terlihat sedikit malu karena telah memberikan sesuatu yang tidak bisa ia minum. “Maaf... Seharusnya aku bertanya sebelum memesan.”
“Aku juga tidak meminta apa pun,” jawabnya begitu dingin sehingga hawa dingin itu menusuk dada Edward.
Edward merasa tersengat oleh respon dinginnya, ia juga merasakan sedikit nada defensif dalam kata-katanya. Jelas bahwa May sedang membangun tembok, mencoba menjauhkan dirinya darinya. “Tidak, kau tidak meminta apa pun,” jawab Edward datar, mencoba menyamai nada bicaranya. “Tapi aku ingin memberimu sesuatu.”
May menarik napas dalam-dalam, menjawab dengan nada dingin, “Tidak perlu.”