Jakarta. Pukul sebelas siang. Tiga puluh lima derajat Celsius.
Panasnya seperti punya urusan pribadi dengan siapa pun yang masih nekat mencari nafkah di luar rumah.
Motor bebek tua Sofian batuk-batuk membelah jalan.
Brumm.... brumm...
Motor itu memang sudah tua. Pengendaranya belum.
Sofian baru dua puluh empat tahun. Cukup muda untuk bermimpi, tapi cukup tua untuk tahu bahwa mimpi tidak dibayar kalau cuma dipikirkan.
Di boncengan motornya terikat kotak kayu hitam dengan tulisan yang catnya sudah mengelupas:
SERVIS LISTRIK KELILING
Itulah kantor, toko, sekaligus masa depan Sofian. Isinya obeng, tang, solder, multitester, kabel, isolasi, sekrup, dan berbagai benda kecil yang lebih sering menyelamatkan peralatan rumah tangga daripada menyelamatkan rekening Sofian.
Siang itu itu ia baru masuk sebuah gang di kawasan Kampung Melayu ketika seorang kakek kurus melambai-lambaikan tangan.
“Piaaan!”
Sofian mengerem.
“Babeh Ali.”
Babeh Ali sudah lebih dari delapan puluh tahun. Tubuhnya kurus, rambutnya hampir seluruhnya memutih, dan langkahnya tak lagi tegap. Beberapa tahun terakhir, ingatannya juga mulai sering tertukar. Kadang ia baru saja menanyakan sesuatu, beberapa menit kemudian pertanyaan yang sama sudah keluar lagi dari mulutnya. Nama orang pun sesekali terlupa, tetapi anehnya, satu hal selalu ia ingat dengan baik: Sofian adalah orang yang bisa memperbaiki barang-barang rusak. Atau barang yang menurut Babeh Ali rusak.
Babeh Ali menunjuk kipas angin tua di depan rumahnya.
“Ini... anginnye kagak kenceng.”
Sofian menatap kipas itu.
Kipas yang sama. Yang kemarin diperbaiki. Kemarin lagi diperbaiki dan minggu lalu juga.
Padahal Sofian sudah tahu betul kipas itu sebenarnya tidak pernah rusak.
Babeh Ali hanya selalu merasa anginnya kurang kencang setiap kali melihat Sofian lewat.
Sofian jongkok, membuka bagian belakang kipas, meniup debu, memutar baling-baling, lalu mengetuk bodinya dua kali.
"Coba sekarang, Beh."
Babeh Ali menyalakan kipas. Baling-balingnya berputar. Wajah Babeh Ali langsung cerah.
"Nah! Sekarang baru kenceng!"
Sofian mengangguk serius.
"Udah saya omelin tadi, Beh."
Babeh Ali mengernyit.
"Siape?"
"Kipasnye."
"Emang bisa diomelin?"
"Barang juga kadang bandel."
Babeh Ali tertawa. Selesai. Sofian memasukkan alat-alatnya kembali.
Babeh Ali merogoh saku dan mengeluarkan sebungkus kecil kacang tojin.
"Nih."
Sofian menerimanya dengan dua tangan.
"Makasih, Beh."
"Mau duit?"
Sofian cepat-cepat menggeleng.
"Ini aja udah mahal."
"Kenape?"
"Soalnya dari Babeh."
Babeh Ali tersenyum puas. Sofian memasukkan kacang itu ke kantong celananya.
"Udah kenceng lagi tuh kipas, Beh."
"Iye."
"Saya keliling lagi, Beh."
"Hati-hati."
"Iye."
Motor tua itu kembali meraung.
Brummm...
Belum lima ratus meter, seorang ibu melambaikan tangan.
"Mas! Mas servis!"
Sofian berhenti.
Di teras rumah ibu itu ada televisi tabung empat belas inci yang kelihatannya sudah lebih tua daripada Sofian.
"Rusak, Bu?"
"Iya."
Sofian jongkok dan membuka casing televisi. Belum sempat tangannya bekerja, si ibu berteriak ke dalam.
"Saidah! Keluar!"
Seorang gadis muncul. Sofian menoleh. Gadis itu cuma memakai kaus longgar, rambut dikuncir asal, sandal jepit beda warna.
Ia duduk menatap Sofian. Diam. Tatapannya seperti sedang menginterogasi tersangka.
Sofian menelan ludah.
Gue lagi servis TV apa lagi disidang?
Ibunya mulai bicara.
"Mas Sofian belum nikah, ya?"
"Belum, Bu."
"Kerjanya rajin."
"Alhamdulillah."
"Orangnya sabar."