Pukul setengah empat sore. Suara salam pelan mengakhiri salat Ashar Sari.
"...Assalamu'alaikum warahmatullah."
"...Assalamu'alaikum warahmatullah."
Ia merapikan mukena putih yang dipakainya. Mukena itu sebenarnya sudah cukup tua. Bagian ujungnya mulai berbulu, tapi masih bersih. Mukena itu pemberian ibunya beberapa tahun lalu. Sejak datang ke Jakarta, hanya itu yang selalu ia lipat sendiri dengan hati-hati.
Baru saja ia selesai melipat mukena, gorden tipis yang menjadi pintu kamarnya tersibak.
"Sar..."
Bu Tini melongok dari luar.
"Udah beres kan salat Asharnya?"
Sari mengangguk.
"Udah, Bi."
"Ayo kita ke pasar."
Sari berkedip.
"Hah?"
Belum sempat bertanya apa-apa, Bu Tini sudah keburu berjalan menjauh.
"Buruan!"
Sari hanya menghela napas kecil.
"Iya, Bi..."
Ia memang tidak punya banyak pilihan. Kamar kecil yang kini ditempatinya dulunya milik Diah, anak semata wayang Bu Tini. Beberapa bulan lalu Diah menikah dengan laki-laki asal Jawa. Setelah menikah, ia ikut suaminya pindah ke sana.
Sejak itu kamar ini kosong. Sampai suatu hari kakak Bu Tini di Lembang menelepon.
"Tin... Sari mau merantau ke Jakarta."
Bu Tini langsung mengiyakan. Bukan karena butuh tambahan tenaga di warung. Tapi karena rumah yang tadinya ramai mendadak terasa terlalu sunyi. Dalam hati, Bu Tini merasa seperti mendapat anak perempuan lagi.
***********
Sepuluh menit kemudian Sari sudah berjalan di samping bibinya. Tas kain tergantung di bahunya.
"Bi..."
"Hm?"
"Kita jalan?"
"Iya atuh."
Bu Tini melangkah santai.
"Sekarang angkot di Jakarta mah kalau bayar kudu pakai kartu."
Sari mengernyit.
"Kartu?"
"Iya."
"Bibi mah nggak ngerti."
"Dulu mah si Diah yang ngurus beginian."
"Sekarang si Diah udah di Jawa."
Sari mengangguk pelan.
"Pasarnya jauh?"
"Nggak terlalu. Makanya jalan aja. Nanti pulangnya baru naik bajaj. Kan pulangnya kita udah bawa belanjaan. Berat kalau jalan."
"Iya, Bi," jawab Sari, patuh.