Cukup

Dwitia Yanuanti
Chapter #4

Bab 3 : Sempit

Pukul setengah lima sore.

Motor tua Sofian akhirnya berhenti di depan rumah yang berada dalam sebuah gang sempit. Gang menuju rumahnya hanya cukup dilewati satu motor. Kalau ada motor dari arah berlawanan, salah satunya harus mengalah. Rumah-rumah berdiri rapat, nyaris tidak punya halaman.

Sofian masih tinggal di rumah orangtuanya. Rumah dengan cat hijau yang mulai pudar. Suara televisi tetangga bisa terdengar sampai ke ruang makan. Kalau ada yang masak ikan asin, satu RT ikut mencium aromanya.

Di atas motornya ada satu kantong plastik berisi beras lima kilogram. Rupanya dalam perjalanan pulang, Sofian beli beras untuk keluarganya. Sofian masuk ke dalam rumah sambil membawa beras.

Ia membuka pintu. Begitu masuk langsung bertemu satu ruangan. Ruangan yang melakukan hampir semua pekerjaan. Pagi hari menjadi ruang makan. Siang menjadi ruang tamu. Sore menjadi ruang menyetrika. Kalau televisi dinyalakan, berubah jadi ruang keluarga. Dan nanti malam ruangan itu berubah lagi menjadi kamar tidur Sofian.

Kasur lipat yang sekarang masih disandarkan di dinding baru akan dibuka setelah semua orang selesai beraktivitas.

Rumah itu hanya memiliki dua kamar tidur. Satu ditempati Enyak dan Babeh. Satu lagi ditempati kakak perempuan Sofian, Zaenab beserta suaminya, Zaenudin. Semua orang memanggilnya Udin.

Zaenab dan Udin sudah mempunyai seorang anak laki-laki yang baru berumur satu tahun, namanya Ibnu. Dan sepertinya anak itu sebentar lagi akan menjadi kakak. Karena tanda-tandanya sudah terlalu jelas.

Sofian langsung ke ruang paling belakang, yaitu dapur. Ia meletakkan kantong berisi beras di lantai dapur.

Enyak yang lagi di dapur, langsung menoleh.

"Eh, udah pulang, pas banget Enyak mau masak nasi." Ujar Enyak.

Enyak langsung membuka kantong berisi beras pembelian Sofian. Bukan beras premium, melainkan beras yang kalau kebanyakan air, nasinya berubah jadi bubur. Kalau airnya kurang sedikit saja, nasinya keras seperti belum ikhlas dimasak. Setiap kali menanak beras itu, selalu ada perdebatan kecil di rumah.

"Kebanyakan air."

"Kurang air."

"Nambah dikit."

"Jangan banyak-banyak."

Sampai rasanya...tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu takaran yang tepat. Tapi begitulah, keluarga Sofian sudah bertahun-tahun makan beras yang sama dan tetap kenyang.

Sementara itu Sofian bergerak ke kamar mandi yang letaknya di dapur juga. Baru saja tangannya hendak membuka pintu kamar mandi, terdengar suara orang muntah dari dalam.

Lihat selengkapnya