Cukup

Dwitia Yanuanti
Chapter #5

Bab 4 : Spare Part

Malam turun perlahan. Sehabis salat Isya, udara Jakarta memang tidak benar-benar sejuk. Hanya sedikit lebih ramah dibanding siang tadi.

Motor tua Sofian tetap terparkir di depan rumah. Malam itu ia sengaja mengistirahatkannya.

"Kasian juga," pikirnya.

"Besok masih harus muter lagi."

Yang mengantar justru Faiz, sobatnya Sofian.

Motor Faiz jauh lebih muda. Bodinya masih mengilap meski dipakai setiap hari. Maklum, Faiz bekerja sebagai pengemudi ojek online. Ada batas usia kendaraan kalau mau tetap narik.

Motor tua seperti milik Sofian sudah lama tidak memenuhi syarat.

"Lumayan ya..." gumam Sofian dari boncengan.

"Motor lo masih enak."

Faiz terkekeh.

"Enak apaan. Ini juga masih nyicil."

Motor melaju membelah jalanan malam menuju sebuah toko kecil langganan Sofian.

Kalau orang baru lewat, mungkin mengira toko itu sudah hampir bangkrut. Papan namanya mulai pudar. Rolling door-nya penyok. Dinding depannya kusam. Dari luar lebih mirip gudang rongsokan. Padahal di balik ruangan depannya yang sempit terdapat gudang besar yang penuh rak-rak berisi spare part elektronik.

Kapasitor. Relay. Sakelar. Elemen pemanas. Motor kipas. Kabel. Sekring. Hampir semua barang yang dicari tukang servis ada di sana.

Toko itu buka sejak pukul tujuh pagi sampai sembilan malam. Pemiliknya seorang pria keturunan Tionghoa berusia sekitar lima puluh tahun.

Semua pelanggan memanggilnya : Engko.

Begitu melihat Sofian masuk, Engko langsung tersenyum.

"Wah...Tukang servis keliling dateng."

Sofian ikut tersenyum.

"Engko...Biasa. Beli spare part."

Engko mengangguk.

"Tapi...Harganya naek lagi."

Sofian langsung berhenti melangkah.

"Astaghfirullah...Minggu kemaren udah naek. Sekarang naek lagi?"

Engko mengangkat bahu.

"Dollarnya naek lagi."

Sofian langsung menunjuk salah satu kardus bertuliskan Made in China.

"Lah...Ini kan barang Cina. Masa pake dollar juga?"

Engko ikut mengangkat kedua tangannya.

"Lah...Lo tanya aja sama pemerintah. Gue juga kagak ngerti."

Faiz yang berdiri di samping hanya nyengir.

Lihat selengkapnya