Cukup

Dwitia Yanuanti
Chapter #6

Bab 5 : Pertahanan Hati

Keesokan harinya. Pukul satu siang lewat sedikit. Jam ketika warung makanan mulai masuk masa kritis. Kalau masih ada pembeli, alhamdulillah. Kalau tidak, lauk yang tersisa tinggal menunggu berubah status menjadi makan malam.

Bu Tini sedang pergi membeli minyak goreng dan telur. Warung dijaga oleh Sari. Sari baru selesai menyapu ketika terdengar suara dari depan.

"Bu... beli, Bu..."

Sari berhenti menyapu. Bu Tini belum pulang. Ia teringat pesan bibinya.

Di Jakarta kudu hati-hati.

Sari membuka tirai jendela.

"Sebentar."

Begitu keluar, ia langsung mengenali orang yang berdiri di depan warung. Tukang servis listrik kemarin. Sofian.

Sofian tersenyum lebar.

"Beli nasi uduk?" tanya Sari.

"Iya."

Sofian mengangguk cepat.

"Beli apa aja. Yang penting saya bisa duduk di sini."

Sari berkedip.

Sofian sadar mulutnya lagi-lagi lebih cepat daripada otaknya.

"Maksud saya... nasinya. Saya beli nasi uduk. Semuanya. Yang sisa lauknya juga."

"Oh."

Sari mengambil piring. Nasi masuk satu centong, dua centong, tiga centong.

Sofian mulai memperhatikan.

Lho...

Empat centong. Lima centong. Baru Sari berhenti.

Sofian menatap piring. Piring itu sekarang terlihat seperti proyek pembangunan. Lalu lauk menyusul : telur dadar, tempe orek, sambal, kerupuk. Semuanya.

Sari meletakkan piring di hadapan Sofian.

"Silakan."

Sofian diam. Ia menatap piring lalu menatap Sari. Kemudian kembali menatap piring.

Ini nasi uduk apa konsumsi satu RT?

Tapi yang mengambilkan Sari. Masa protes? Akhirnya Sofian tersenyum.

"Makasih."

Ia mulai makan. Suapan pertama masih penuh percaya diri. Suapan kedua masih aman. Suapan ketiga...Sofian mulai sadar bahwa hidup ternyata tidak selalu soal makan yang banyak.

Ia mencoba mengobrol dengan Sari.

"Namanya siapa? Kemarin belum sempat kenalan."

"Sari."

"Oh."

Sofian mengangguk.

"Kenalin. Saya Sofian. Panggil Pian aja."

"Iya."

Sari menuangkan teh.

"Makasih." Kata Sofian.

Sari mengangguk. Sofian makan lagi. Hening. Sofian kembali mencari bahan obrolan.

"Ada yang rusak lagi nggak?"

Sari menoleh.

"Hah?"

"Rice cooker-nya rusak lagi gak?"

"Nggak."

"Yang lain?"

Sari berpikir.

"Nggak ada."

Sofian mengangguk. Hening lagi. Dalam hati ia mulai panik.

Lihat selengkapnya