Cukup

Dwitia Yanuanti
Chapter #7

Bab 6 : Dia yang Mengganggu Pikiran

Malam itu...rumah keluarga Sofian akhirnya mulai tenang. Televisi sudah dimatikan. Kasur lipat Sofian sudah digelar memenuhi ruang serbaguna yang siang tadi masih menjadi ruang tamu.

Lampu utama dipadamkan. Tersisa satu lampu lima watt berwarna kekuningan yang menggantung di sudut ruangan.

Sofian berbaring terlentang. Kedua tangannya menjadi bantal. Matanya menatap langit-langit rumah yang mulai menghitam dimakan usia. Ada bekas rembesan air hujan. Ada cat yang mengelupas. Ada bekas tambalan semen yang warnanya berbeda. Rumah itu jauh dari indah.

Tapi anehnya malam ini dunia terasa jauh lebih indah daripada biasanya. Sudut bibir Sofian terangkat sendiri. Ia kembali teringat makan siang tadi. Nasi uduk yang sudah dingin. Lauk yang benar-benar tinggal sisa. Teh tawar yang bahkan es batu pun tak pernah mengenalnya. Dan...Sari. Senyumnya, cara gadis itu mengangguk. Cara ia mengucapkan satu dua kata. Semuanya berputar-putar di kepala Sofian.

"Kenapa ya..." batinnya.

"Gue kepikiran terus sama Sari."

Ia tersenyum lagi. Lebih lebar. Lalu...

"HUEEKKK..."

Senyum itu langsung hilang. Pintu kamar kakaknya terbuka. Zaenab berlari setengah sempoyongan menuju kamar mandi.

"HUEKK..."

"HUEKK..."

Sofian menoleh ke arah langit-langit lagi. Menghela napas. Belum selesai...tangisan kecil mulai terdengar.

"Waaaaa..."

Ibnu. Keponakannya yang baru berumur satu tahun. Mungkin terbangun karena mendengar suara ibunya muntah.

Dalam hitungan detik rumah sempit itu kembali hidup. Zaenab masih muntah. Ibnu menangis. Udin terdengar panik membujuk anaknya.

Enyak ikut bangun. Babeh berdeham berkali-kali.

Sofian mengambil bantal, menutup kedua telinganya.

"Ya Allah..." gumamnya lirih.

"Pura-pura nggak denger..."

Ia memejamkan mata kuat-kuat. Beberapa menit kemudian, entah karena memang mengantuk atau memang sudah terlalu terbiasa, Sofian akhirnya benar-benar tertidur.

************

Keesokan paginya.

Sofian bangun lebih cepat daripada biasanya. Dan pagi itu mandi terasa lebih cepat. Sarapan terasa lebih lahap. Bahkan menyemir rantai motor pun terasa menyenangkan.

Enyak keluar membawa dua wadah plastik berisi gorengan yang dimasukkan ke dalam kantong kresek putih.

"Nih. Titipin ke warung Bu Marni ya."

"Iya, Nyak."

Warung Bu Marni memang selalu menjadi tempat Enyak menitipkan gorengan setiap pagi. Kebetulan searah dengan rute keliling Sofian.

Sofian menggantung dua wadah itu di setang motornya.

Babe yang sejak tadi memperhatikan anaknya akhirnya nyeletuk.

"Pian..."

"Hm?"

"Kenapa lo dari tadi mukanya kayak pengen ketawa terus?"

Sofian spontan menyentuh pipinya sendiri.

"Masa, Beh?"

Lihat selengkapnya