Siang itu matahari Jakarta sedang tepat di atas kepala. Panasnya turun lurus ke jalanan, memantul dari aspal, lalu naik lagi ke wajah orang-orang yang masih mencari rezeki.
Di teras rumah Bu Tini, Sari sedang menyapu. Gerakannya pelan, rapi. Sesekali ia berhenti, melihat jam dinding yang tergantung di ruang tengah. Pukul dua belas lewat sedikit.
Entah sejak kapan, jam segitu terasa berbeda. Sari kembali menyapu. Lima menit berlalu. Ia kembali melirik jam. Lalu tanpa sadar melirik ke arah jalanan.
Hanya kendaraan berlalu lalang. Tidak ada kendaraan yang ia kenal. Sari kembali menyapu.
Beberapa detik kemudian...
Brummm...
Suara motor tua yang sudah mulai akrab di telinganya terdengar mendekat. Sari spontan menoleh. Benar. Motor bebek tua itu. Kotak kayu bertuliskan SERVIS LISTRIK KELILING. Dan...
Sofian.
Ia memarkirkan motor, melepas helm, lalu seperti biasa, tersenyum lebar. Senyum yang selalu datang lebih dulu daripada sapaan.
Sari membalas dengan senyum kecil, mengangguk sopan. Lalu meletakkan sapunya. Seolah sudah hafal alasan kedatangan laki-laki itu.
"Nasi uduk?" Tanyanya singkat.
Sofian mengangguk cepat.
"Biasa."
Belum sempat Sofian duduk, seseorang keluar dari pintu rumah yang terbuka.
Seorang laki-laki keluar sambil menggosok rambutnya dengan handuk. Rambutnya masih basah. Badannya tinggi. Kulitnya lebih gelap daripada Sari. Ia seperti baru selesai mandi.
Sofian membeku. Matanya membesar. Otaknya langsung bekerja terlalu cepat.
"Siapa ini?"
"Jangan-jangan..."
"Ya Allah..."
Sofian spontan memegang dadanya.
"Astaghfirullah...Siapa nih?"
Sari menjawab tenang.
"Kakak saya. Yadi. Baru datang dari kampung."
"Kakak?" ulang Sofian. Masih belum percaya.
Sari mengangguk.
"Kakak kandung?"
"Iya."
Sofian terdiam dua detik. Lalu mengembuskan napas panjang. Tangannya tanpa sadar mengusap dada sendiri.
"Alhamdulillah..." gumamnya lirih, lega luar biasa setelah sempat berpikir laki-laki itu suaminya Sari.
Sari mengernyit.
"Kenapa?"
Sofian langsung gugup.
"Nggak...Nggak kenapa-kenapa."
Ia buru-buru mengulurkan tangan.
"Kenalin. Sofian. Panggil Pian aja."
Yadi menjabat tangannya.
"Yadi."
Jabatannya kuat, hangat.
Sari kembali ke dapur. Tak lama kemudian ia keluar membawa sepiring nasi uduk. Seperti biasa, nasinya lebih banyak daripada lauknya. Telur dadar tinggal sedikit. Tempe orek tinggal sedikit. Sementara kerupuk, hari itu benar-benar sudah punah.
Sofian tersenyum.
"Makasih."
Ia mulai makan. Yadi duduk di bangku sebelahnya.
"Kerja, Mas?" Tanya Yadi.
Sofian menunjuk motor tuanya.
"Tukang servis listrik keliling."