Malam itu, di ruang tengah rumah Bu Tini, tikar digelar. Di tengahnya ada sepiring ikan asin goreng, tumis kangkung, sambal terasi, dan semangkuk sayur bening.
Bu Tini, Sari, dan Yadi duduk melingkar. Mereka makan lesehan.
Yadi tampak lebih bersemangat daripada biasanya.
"Bi...Bismillah...Besok saya mulai kerja."
Bu Tini yang sedang menyendok sayur langsung tersenyum.
"Alhamdulillah. Kerja di mana?"
"Proyek bangunan. Jadi kuli."
Bu Tini mengangguk pelan.
"Ya, nggak apa-apa. Yang penting halal."
Yadi tersenyum.
"Muhun*. Itu juga...berkat Pian. Dia yang ngenalin saya ke saudaranya, mandor di sana."
Bu Tini berhenti mengunyah.
"Ooh...Anak itu lagi."
"Iya. Kalau bukan sama dia...belum tentu saya teh dapet kerja secepat ini."
Bu Tini mengangguk-angguk.
"Alhamdulillah. Pokoknya kamu teh kudu kerja yang bener ya."
Yadi mengangguk.
"Di Jakarta...," lanjut Bu Tini."...nyari kerja susah."
"Iya, Bi."
Beberapa saat kemudian Bu Tini berdiri.
"Mau ambil air dulu."
Begitu langkah Bu Tini menghilang ke dapur, Yadi menoleh ke arah adiknya. Suaranya diturunkan.
"Eh, Sar."
Sari menoleh.
"Hm?"
"Kayaknya...si Pian teh naksir kamu."
Sari tidak menjawab, hanya menatap kakaknya. Yadi melanjutkan.
"Kalau dia deketin kamu...kudu ati-ati ya."
Sari menyimak lebih serius.
"Kalau dia macem-macem...bilang ke Aa."
Sari mengangguk pelan.
"Iya."
Yadi kembali makan. Tidak menyadari di sudut bibir adiknya muncul senyum kecil. Senyum yang datang begitu saja. Lalu cepat-cepat disembunyikan.
**********
Hari-hari berikutnya Sofian seperti mendapat suntikan tenaga baru. Setelah mendapat "lampu hijau" dari Yadi, keberaniannya perlahan bertambah. Kalau dulu ia hanya datang untuk makan di warung Bu Tini, sekarang ia datang sambil membawa banyak cerita.