Malam kembali turun. Ruang kecil itu kembali berubah menjadi kamar tidur Sofian.
Kasur tipis digelar memenuhi lantai. Televisi sudah dimatikan. Suara kipas angin tua berdengung pelan di sudut ruangan. Satu per satu penghuni rumah mulai terlelap. Hanya Sofian yang masih terjaga.
Ia duduk bersila di atas kasurnya yang digelar di lantai. Di depannya selembar tikar plastik dijadikan alas. Di atas tikar itu berserakan uang hasil kerjanya beberapa hari terakhir.
Ada pecahan dua ribu. Lima ribu. Sepuluh ribu. Dua puluh ribu. Lima puluh ribu. Seratus ribu.
Kondisinya pun macam-macam. Ada yang masih mulus. Ada yang kusut seperti baru keluar dari saku celana tukang bangunan. Ada yang lecek karena mungkin pernah ikut tercuci. Bahkan ada selembar uang sepuluh ribu yang robek sedikit di bagian pinggir.
Sofian mengambil selotip bening dari kotak servisnya.
Dengan hati-hati ia menyatukan sobekan kecil itu lalu meratakannya memakai kuku. Kemudian mengangguk puas.
"Kalau yang begini..." gumamnya pelan. "...buat kembalian aja. Bank kagak mau nerima kalau sobek."
Satu per satu uang ia rapikan. Dikelompokkan berdasarkan nominal. Kebiasaan itu sudah ia lakukan bertahun-tahun. Supaya besok pagi saat menyetor ke bank, ia tidak perlu menghitung lagi.
Saat itulah terdengar langkah pelan. Enyak keluar kamar. Barangkali hendak ke kamar mandi. Begitu melihat Sofian masih duduk menghitung uang, beliau menghampiri.
"Eh...Pian. Belom tidur?"
Sofian mendongak.
"Oh...Sebentar lagi, Nyak. Lagi beresin uang. Mau disetor ke bank besok."
Enyak duduk di samping anaknya. Melihat tumpukan uang yang tersusun rapi, senyumnya mengembang.
"Pinter ya lo ngatur duit."
Sofian hanya nyengir. Enyak kemudian bertanya pelan.
"Udah berapa tabungan lo?"
Sofian berhenti menghitung. Tangannya ikut diam. Beberapa detik ia tidak menjawab. Melihat anaknya ragu, Enyak tertawa kecil.
"Tenang aje. Bukan mau minta. Enyak sih...nerima aja berapa yang lo kasih. Biarpun uang pensiun Babeh lo gak seberape... buat makan Enyak sama Babeh sih udah cukup."
Enyak menggeleng.