Sejak mendapat ijin dari Yadi untuk mendekati Sari, hari-hari Sofian tetap sama. Tetap bangun pagi. Tetap berkeliling Jakarta dengan motor tuanya.
Tetap mengetuk pintu rumah orang sambil menawarkan jasa servis alat listrik. Yang berubah, hanya semangatnya. Kalau dulu ia bekerja supaya bisa makan besok, sekarang ia bekerja sambil membayangkan suatu hari nanti bisa membangun rumah tangga.
Setiap hari selalu ada cerita baru. Hari ini ada pelanggan yang berkata pelan.
"Mas...uang saya kurang. Besok saya lunasin ya."
Sofian hanya mengangguk.
"Iya, Bu."
Besoknya lagi ada pelanggan lain yang membayar hanya separuh.
"Yang separuh lagi minggu depan."
"Iya, Pak."
Lusa seorang bapak yang televisinya baru saja menyala kembali malah menggerutu.
"Servis beginian doang...mahal amat."
Sofian hanya tersenyum. Padahal setelah dipotong ongkos bensin dan harga spare part, keuntungan yang ia bawa pulang hari itu hanya lima ribu rupiah.
"Ya udah..." batinnya. "Namanya juga rezeki."
Namun tidak semua pelanggan seperti itu. Ada seorang nenek yang setelah membayar justru berkata, "Udah...kembaliannya buat kamu aja."
Sofian tersenyum lebar.
"Terima kasih, Nek."
Hari itu bahkan ada kejadian yang benar-benar tidak ia duga. Seorang pelanggan kebingungan karena tidak punya uang tunai. Dompetnya kosong. Transfer tidak bisa. Akhirnya lelaki itu masuk ke rumah. Keluar membawa sebuah telepon genggam.
"Mas...Kalau saya bayar pakai ini...boleh?"
Sofian menerima telepon genggam itu. Ia membolak-baliknya. Masih bisa menyala. Layarnya masih bagus. Kameranya pun masih berfungsi.
Ia terdiam cukup lama. Dulu telepon genggam miliknya sendiri sudah ia jual. Uangnya dipakai membeli spare part. Karena baginya alat kerja jauh lebih penting daripada alat komunikasi.
Kini tanpa pernah direncanakan ia kembali memiliki sebuah telepon genggam.
"Disyukuri aja..." batinnya. "Rezeki juga."
************
Meski keadaan ekonominya terasa berjalan di tempat, kehidupan asmara Sofian justru bergerak pelan ke arah yang ia harapkan.
Menjelang siang, motor tua itu kembali berhenti di depan warung Bu Tini. Kali ini Sofian bahkan belum sempat membuka mulut. Sari sudah keluar membawa segelas teh hangat. Bukan lagi teh dingin seperti dulu. Disusul sepiring gorengan yang baru diangkat dari wajan dan masih mengepul.
Sofian tersenyum sampai matanya menyipit.
"Wah...Udah hafal ya."
Sari hanya mengangguk kecil.
"Iya."
Setelah itu, seperti sudah menjadi kebiasaan. Sari duduk di kursi seberang. Tidak terlalu dekat, tetapi cukup dekat untuk saling melihat.
Sofian mulai bercerita tentang pelanggan, tentang motornya, tentang jalanan Jakarta. Lalu... pelan-pelan tentang keluarga.
"Kamu anak ke berapa?"
"Kedua."
"Ayah ibu di Lembang?"
"Iya."
"Umur kamu berapa?"
"Dua puluh satu."
"Oh..."