Cukup

Dwitia Yanuanti
Chapter #14

Bab 13 : Serius

Keesokan harinya matahari bahkan belum terlalu tinggi ketika suara palu dan mesin molen kembali memenuhi proyek. 

Yadi mulai terbiasa dengan ritme sebagai kuli. Pagi mengangkat semen. Siang mengangkat bata. Sore membersihkan sisa material.

Capeknya masih sama. Hanya saja badannya mulai belajar menerima.

Saat waktunya istirahat, para pekerja kembali berjalan menuju warteg langganan mereka.

Kantin Do'i. Warteg Bu Tuti. Suasananya ramai seperti biasa. Sendok beradu dengan piring. Orang memanggil tambahan nasi.

Ada yang makan cepat karena ingin tidur sebentar sebelum kerja lagi. Ada pula yang sengaja berlama-lama menikmati segelas teh hangat.

Yadi duduk di meja yang sama dengan beberapa kuli kemarin. Obrolan mereka rupanya masih belum jauh dari topik yang sama. : uang.

Salah seorang kuli yang kemarin bercerita soal investasi kembali membuka percakapan.

"Gue bilang apa? Untung, kan?"

Temannya langsung mengangguk.

"Iya."

"Emang bener?"

"Bener."

"Pak Umar orangnya aman. Gue udah ngerasain sendiri."

Yang lain ikut menyela.

"Katanya duit lo jadi dobel ya?"

"Iya."

"Tiga bulan."

"Lumayan."

"Tabungan gue yang tiga setengah juta...jadi tujuh juta."

Beberapa orang langsung bersiul kagum.

"Buset."

"Enak amat."

"Kalau gitu gue mau masukin gaji bulan ini."

"Iya."

"Gue juga."

"Daripada ngendep di rekening."

Yadi diam-diam ikut mendengarkan. Nama itu kembali disebut. Pak Umar. Orangnya katanya baik. Banyak yang sudah ikut.

Lihat selengkapnya