Cukup

Dwitia Yanuanti
Chapter #15

Bab 14 : Restu Pertama

Malam itu, rumah Bu Tini kembali dipenuhi aroma masakan sederhana. Sepiring ikan pindang, tumis kacang panjang, sambal terasi, dan sepanci nasi hangat.

Bu Tini dan Sari kembali duduk lesehan di ruang tengah, tanpa meja makan.

Yadi yang baru selesai mandi dan rambutnya masih basah, langsung ikut bergabung duduk di sana.

Sari sedang menuangkan teh ke tiga gelas. Sementara Bu Tini mengambilkan sendok.

Suasana awalnya tenang. Sampai akhirnya Yadi berdeham pelan.

"Sar..."

Sari menoleh.

"Hm?"

Yadi berbicara lebih serius dari biasanya.

"Tadi siang...Pian datang ke proyek."

Sari berhenti menuang teh.

"Oh..."

Yadi melanjutkan.

"Dia ngomong sama Aa."

"Apa?"

Yadi menarik napas sebentar.

"Dia bilang...serius sama kamu."

Sari masih diam. Yadi menatap adiknya lurus-lurus.

"Dia pengen...ngajak kamu nikah."

Seketika waktu seperti berhenti. Sari hanya melongo. Tangannya masih memegang teko. Teh terus mengalir sedangkan gelas sudah penuh, lalu meluap. Teh hangat pun tumpah ke lantai.

"Sar!"

Bu Tini langsung berseru.

"Eh..." Sari melihat ke teko di tangannya.

"Jangan bengong." Seru Bu Tini.

Sari tersentak.

"Eh...Iya..."

Ia buru-buru mengambil serbet, mengelap teh yang mengalir ke tikar. Pipinya memerah. Entah karena malu atau karena kalimat yang baru saja didengarnya dari Yadi.

Bu Tini tersenyum kecil.

"Duh...Baru diajak nikah aja...udah nggak fokus."

Sari semakin salah tingkah. Ia menoleh kepada kakaknya.

"Yang bener, A?"

Yadi mengangguk mantap.

"Iyalah. Bener."

Ia lalu balik bertanya.

"Kamu sendiri gimana?"

Lihat selengkapnya